KADINAH dan BEROKAN

Posted: Mei 18, 2011 in Tokoh
Tag:, , , , , , , , , , , , ,

— Ringkasan Part-4—

            Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling. Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat: seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.  Kadinah, dengan meminjam raga cucunya yang bernama Sumyati, menjelaskan secara panjang lebar mengenai tradisi obrog yang sudah mati.

/5/

            Kalian seharusnya mendengar baik-baik cerita ini.  Apa yang dilakukan oleh orang-orang tua dan para seniman ketika seluruh desa terkena bencana pageblug?  Orang-orang pada zaman kini hanya berkutat pada bagaimana menolong orang-orang yang terkena bencana, tanpa banyak berpikir untuk menyelesaikan penyebab semua bencana.  Atau mungkin telah melupakan — kalau tidak ingin dikatakan mengabaikan— penyebab semua bencana.  Berokan adalah cara membasmi semua bencana sampai ke akar-akarnya.

            Biarkanlah monolog ini bertambah panjang, karena reang berpikir kalian harus memahaminya.  Setidaknya, reang mengkhawatirkan kalau hidup kalian sekarang telah kehilangan akarnya, ketika kalian berkeliaran mengembara ke mana-mana, ke berbagai penjuru dunia.  Padahal kalian tahu, kalau dukuh Wanakajir ini adalah pusat.  Ia tempat kalian lahir, dan karena itu kalian pasti merindukannya, betapapun jauhnya negara jelajah kalian.  Kelak dukuh ini akan dengan ikhlas menerima kembali kalian, untuk pulang dan berpulang, dalam keadaan hidup atau mati, betapapun kalian membencinya.  Wanakajir adalah pusat hidup dan mati kalian.

            Namun, seperti biasa, sebelum reang bercerita, buatlah suguhan baru: segelas tehbruk dan sebungkus udud kesukaan.  Kalian tak perlu mengusir reang dari raga yang pinjaman ini, karena reang tahu kapan reang akan keluar.  Reang belum bisa tenang, karena masih banyak yang harus reang sampaikan

            Mengenai berokan ini, ada penjelasan yang agak panjang yang harus kalian dengarkan.  Kesenian berokan sudah mati, tak ada lagi pewaris maupun pendukungnya.  Perhatikan kalau kata berokan dekat sekali dengan kata “barokahan”, yang menunjuk pada arti pemberkahan.  Kata itu sejajar dan semakna dengan kata slametan.  Berkah itu datangnya dari langit, yakni dari Tuhan, meskipun jalannya bisa melalui siapa saja dan bisa melalui ikhtiar apa saja.  Demikianlah, berokan adalah ikhtiar yang diharapkan dapat mendatangkan berkah langit untuk menghalau keberlanjutan bencana ketika pageblug datang, ketika wabah tiba, atau ketika penyakit merajalela.  Menghalau sampai ke akar-akarnya.

            Kata be-rok itu sendiri dekat dengan kata “ba-rong”, yang di antara keduanya memiliki wujud dan fungsi serupa, sekali lagi, yakni makhluk mitologis penghalau bencana.  Kepala berokan berupa topeng kepala binatang, badan berokan berupa sarung yang terbuat dari karung goni, dan ekor berokan berupa tongkat dengan diameter genggaman pemain sepanjang kurang lebih satu meter.  Berbeda dengan barong yang memiliki variasi topeng, kebanyakan topeng berokan menggambarkan wajah buaya dengan kemoncongan mulut yang tidak runcing.  Bagian mulut topeng dapat membuka dan menutup apabila digerak-gerakan oleh pemainnya dari bagian dalam sarung karung.  Seolah-olah geraham topeng hidup.  Bahkan bunyi plak-plok dapat terdengar keras apabila geraham topeng berokan itu dimainkan.  Sementara yang menjadi badannya adalah karung goni yang berisi seorang pemain di dalamnya.  Jika barong pakaiannya mewah, sementara berokan sangat sederhana.  Jika barong dimainkan oleh dua orang, berokan hanya dimainkan oleh seorang. 

            Ekor barong dan berokan juga memiliki perbedaan.  Ekor barong semewah badannya, sementara ekor berokan sesederhana badan berokan.  Ekor berokan terbuat dari tongkat, dimainkan dengan cara memegang bagian ujung dalam tongkat.  Memang, untuk dapat “menghidupkan” berokan, kedua tangan pemain berokan masing-masing memegang topeng dan memegang ekor berokan. 

            Yang berbeda hanya pada beberapa hal saja.  Mulut pemain berokan mengulum sompretan, yakni pita suara tambahan penghasil aneka suara.  Sompretan ini digunakan oleh pemain berokan untuk dialog dengan “pawang” berokan atau untuk menyanyi apabila diminta.  Yang lainnya adalah berokan tidak selincah barong, karena hanya dimainkan oleh seorang pemain. 

Demikianlah, secara umum berokan sama seperti barong, atau lebih tepatnya berokan merupakan bentuk penyederhanaan barong.  Dalam segi fungsi, berokan bahkan sama persis seperti barong, yakni merupakan cara seniman menghalau bencana.

            Ya, berokan adalah cara seniman menghalau bencana.

            Meskipun kalian agak sukar menerima penjelasan ini, tetapi satu hal harus kalian ketahui bahwa segala sesuatu itu memiliki logikanya sendiri.  Apa kalian masih ingat, bagaimana cara mencari anak-anak yang hilang karena diculik oleh wewe-gombel?  Satu-satunya cara menemukan anak yang hilang karena diculik wewe-gombel adalah dengan memperdengarkan semua bunyi-bunyian yang ada selama pencarian, karena suara bebunyian itu mengagetkan semua makhluk. Tak terkecuali dengan  wewe-gombel.  Wewe-gombel yang mendengar setidaknya akan kaget, kalau bukan terkesima mendengar bebunyian dan kemudian menari mengikuti irama bebunyian yang kita perdengarkan.  Akibatnya adalah anak yang dikempit di ketiak wewe gombel, akan terlepas.  Dengan cara ini, anak yang hilang karena diculik wewe-gombel akan mudah ditemukan.  Itulah logikanya.

            Sama seperti seni barong di Bali atau di Cina, demikian halnya dengan berokan di dukuh ini yang dipercaya dapat menghalau bencana pageblug yang datang.  Ia memiliki logika sendiri.

            Dukuh Wanakajir ini tidak memiliki kelompok kesenian berokan, karena pertunjukan kesenian berokan selalu dilakukan dalam bentuk bebarang dan bukan dalam bentuk tanggapan.  Istilah resminya sih bukan bebarang tetapi narayuda, namun artinya sama saja, mengamen.  Setidaknya, sangat jarang orang-orang nanggap berokan untuk meruwat atau menghalau bencana.  Paling banter, orang meminta kelompok berokan yang sedang bebarang dan kebetulan lewat ke dukuh ini untuk mempergelarkan aksi keseniannya di depan pelataran rumah orang yang meminta.  Setidaknya, begitulah yang terjadi di dukuh ini pada zaman dahulu.

            Apabila ada kelompok kesenian berokan bebarang ke dukuh Wanakajir ini, yang terjadi adalah peristiwa budaya seperti berikut ini.  Pada sebuah pelataran rumah, semua instrumen diturunkan dari pikulan atau dari sepeda.  Pertunjukan diawali dengan menabuh instrumen tersebut, mengundang tua-muda dan anak-anak seluruh dukuh untuk hadir.  Instrumen musik yang dimainkan sangat sederhana: gendang sunda, kecrek, terbang, kempul dan gong kecil. Meskipun sederhana dan bahkan terkesan monoton, tetapi nuansa musik yang dihasilkannya sanggup menghidupkan pertunjukan secara dinamis.  Irama gendang memimpin pertunjukan, dan suara kecrek membangkitkan gairah, mengubah suasana menjadi hingar-bingar.  Paduan dari keduanya, menghasilkan pertunjukan yang membangkitkan gairah.  Dengan ditingkah suara terbang, kempul dan gong kecil, jadilah sebuah orkestra sederhana yang sumringah: penuh energik dan gairah.  Khas gaya pesisiran.

            Selanjutnya, sesudah penonton hadir memenuhi kalangan, seorang pemain masuk ke dalam tubuh berokan.  Kedua tangannya masing-masing memegang topeng dan ekor berokan.  Sementara mulutnya mengulum sompretan, pita suara untuk menghasilkan bahasa berokan. Jika seorang “pawang” bertanya pada berokan, maka berokan menjawab dengan suara yang dihasilkan oleh tiupan sompretan tersebut.  Begitu pula jika “pawang” meminta berokan bernyanyi, ia akan menyanyi dengan suara sompretan.

            Dinamika permainan yang menghidupkan pertunjukan adalah akibat dialog dan interaksi antara pemain yang berada di dalam tubuh berokan dengan “pawang” yang ada di luar berokan.  Segala bentuk kelucuan gerak dan bahasa, merupakan hasil dari interaksi antara pemain dan “pawang”.  Bila berokan berlagak malas, tidak bergairah, maka “pawang” akan memainkan peragaan memompa.  Seolah-olah memompa balon udara dengan pompa tangan.  Ekor berokan dipegang dan dijadikan peraga pompa tangan.  Setelah dipompa, berokan kembali bergairah.  Bila berokan sudah bergairah, maka diminta memperagakan apa saja, pasti dia mau.  Ditanya apa saja, pasti menjawab.  Tentu saja dengan bahasa berokan melalui pita suara sompretan-nya.  Atau kadang-kadang dengan bunyi plak-plok yang dihasilkan oleh gerakan mulut berokan.

            Tetapi jangan sekali-sekali membuat berokan tersinggung.  Sekali tersinggung, berokan akan marah.  Dia bangkit dan mengejar anak-anak ataupun siapa saja.  Dia masuk ke dalam rumah siapa saja yang kebetulan pintunya tidak tertutup. Atau ia mengejar siapapun sampai ke dalam rumah.  Uniknya, adegan ini justru merupakan puncak permainan berokan.  Berokan memang dibuat tersinggung, agar marah dan kemudian berkeliaran ke mana-mana.

            Irama musik meninggi, dalam puncak kesumringahan gairah dan puncak gairah kesumringahan.  Mengiringi adegan berokan yang juga berada pada puncak ketersinggungan.   

            Begitulah berokan yang kini tinggal menjadi cerita.  Menceritakan berokan memang menceritakan keprihatinan perkembangan seni rakyat jelata.  Ketika tumbuh besar ia hidup tanpa pengakuan, dan ketika mati tanpa kuburan tanpa nisan.  Keberadaannya kini telah terdesak oleh topeng monyet dan badut, oleh para pengamen waria dan anak-anak, atau bahkan oleh  jaran lumping si kuda kepang.  Ia telah dilupakan oleh pendukungnya.  Dilupakan secara sempurna.

(bersambung)***

Komentar
  1. Antonio gazelle mengatakan:

    Priben kabare kang ? Kta wong wanakajir ngrasa seneng pisan ana tulisan2 kaya kien, supaya kta kang durung weruh , luwih tepate weruh tapi ramyang2 asale waktu semono kta masih cilik, dadi ya kesuwun pisan ya wis nulis tentang wanakajir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s