— Ringkasan Part-3—

Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling. Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat: seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.  Kadinah, dengan meminjam raga cucunya yang bernama Sumyati, menjelaskan secara panjang lebar mengenai tradisi genjring yang sudah mati.

/4/

Kalian seharusnya mendengar baik-baik cerita ini.  Ini adalah cerita keprihatinan, tentang matinya tradisi obrog di dukuh kita.  Tapi sebelum saya bercerita, jangan lupa buatkan tehbruk yang buket.  Seperti biasa, satu bungkus Teh Upet seduhkan dalam gelas besar, bersama dua gumpal gula batu yang putih mengkristal.  Selain itu, sediakan rokok kretek kesukaanku, Gudang Garam Merah atau cap Djaja. Tapi jika tak ada Gudang Garam Merah atau cap Djaja, rokok Minakdjinggo juga tak apa-apa.  Lalu, jangan lupa, seperti biasa, sebelum aku bercerita, taruhlah semua suguhan itu di bawah meja.

Mengenai obrog ini, ada penjelasan yang agak panjang yang harus kalian ketahui.  Obrog merupakan tradisi penyambutan datangnya bulan puasa yang mulia.  Nabi kita, Nabi Muhammad (sholallaahu ‘alaihi wa salam), memerintahkan kita untuk menyambut bulan puasa dengan gembira.  Itu kata para ulama yang selalu kita turuti semua fatwa-fatwanya.  Romadhon dan ibadah puasa di dalamnya memang perlu disambut dengan gembira, karena umur kita telah disampaikan ke saat-saat yang sangat luar biasa indahnya.  Maka, barang siapa yang tidak menyambut Romadhon dan ibadah puasa ini dengan gembira, pasti dia akan menderita.  Tersiksa menahan lapar seharian dengan cara sendirian.  Bahkan bagi orang-orang di dukuh ini, siksaan itu akan lebih tinggi lagi, karena dapat menyebabkan mulut kecut lantaran menahan rokok sepanjang hari.

Maka, dulu orang-orang di seluruh penjuru tanah Jawa ini akan menabuh bedug masjid manakala senja pertama Romadhon tiba, untuk menandai masuknya ibadah puasa.  Irama bedug dikumandangkan dengan irama yang berbeda dari irama bedug pada hari-hari biasa.  Bedug dipukul bertalu-talu, dilakukan secara bergantian bagi siapa saja yang ingin melakukannya.  Irama yang dikumandangkannya adalah irama suka-cita, persis seperti irama pukulan bedug di hari raya.  Orang-orang di dukuh ini menyebutnya dengan istilah dug-der, suara bedug penanda datangnya puasa atau penanda datangnya hari raya.

Malam-malam Romadhon ditandai dengan tarawih dan sahur.  Tarawih dilakukan di awal malam, sedangkan sahur dikerjakan di akhir malam.  Di antara keduanya terentang ruang waktu, yang setiap orang-orang akan mengisinya dengan kegiatan tertentu.  Kami para seniman mengisinya dengan pertunjukan-pertunjukan.  Pertunjukan-pertunjukan ini dijadikan kebiasaan, yang lama-kelamaan kebiasaan yang dilestarikan ini akhirnya berkembang menjadi tradisi.  Inilah yang disebut dengan tradisi obrog.  Jadi obrog adalah cara seniman menyambut malam-malam Romadhon dengan penuh kegembiraan.  Cara para seniman mengajak semua orang untuk menyambut malam-malam Romadhon dengan penuh kegembiraan.

Tradisi obrog dilakukan dengan cara bebarang, yakni pindah dari dukuh ke dukuh mengusung semua barang-barang instrumen kesenian.  Ada yang mengusungnya dengan sepeda, ada yang mengusungnya dengan gotrok yakni dengan geladak beroda tetapi tidak bermesin.  Pada setiap dukuh yang disinggahinya, para kelompok pekerja seni ini mempergelarkan pertunjukan seninya dalam sesi pertujukan singkat.  Ada pertujukan sintren, ada pertujukan genjring, ada pertujukan topeng, ada pertujukan reog, dan macam-macam jenis pertunjukan lainnya.  Bahkan banyak juga obrog yang bebarang dengan hanya memutarkan kaset melalui loudspeaker saja.  Seperti obrog yang lain, ini juga melakukannya dengan cara singgah dan pindah.

Maka, pada malam-malam Romadhon, selain tajug dan masjid diramaikan oleh orang-orang yang melakukan tadarus, jalanan juga diramaikan oleh banyak obrog.  Seni reog mungkin merupakan obrog yang paling banyak ditonton oleh orang-orang.  Berikutnya adalah seni genjring.  Tetapi mereka selalu mempertunjukkannya dalam sesi pertunjukan singkat, satu hingga dua jam ketika singgah dan selanjutnya mereka pindah.

Reog dari dukuh ini dulu pernah berkembang.  Kelompok Suta, merupakan kelompok reog yang pernah ada.  Tetapi seperti umumnya reog-reog yang ada di sekitar dukuh ini, kesenian reog benar-benar merupakan kelompok hiburan, karena banyak kelompok seni reog dikembangkan bukan untuk mencari bayaran.   Yang menjadi panggung bagi pertunjukan reog hanyalah lapangan.  Panggung itu tidak beralas seperti kalangan yang dipakai untuk pertunjukan sintren.   Dalam sebuah pertunjukan reog, biasanya sebuah oncor dinyalakan di tengah lapangan, untuk menandai bagian tengah panggung.  Oncor adalah obor penerang tradisional yang terbuat dari bambu, dengan bagian lubangnya diisi minyak dan sumbu.   Sumbu yang terletak pada bagian mulut oncor inilah yang kemudian disulut dan dijadikan sumber penerangan.  Agar dapat menerangi pada bagian yang cukup luas, oncor diberi penopang, berupa bambu berkaki tiga.  Apabila api oncor sudah dinyalakan dan instrumen reog sudah diperdengarkan, itu pertanda sebuah panggilan bagi penonton tengah dilakukan.  Pertunjukan sesungguhnya belum benar-benar mulai, karena sebuah pertunjukan membutuhkan kehadiran penonton untuk mengapresiasi.

Tiga sampai lima orang pemain reog berputar mengelilingi oncor, masing-masing memegang gendang dalam berbagai ukuran.  Pemain reog merupakan seniman penghibur yang komplit: selain masing-masing harus dapat memainkan instrumen reog, masing-masing juga harus dapat menyanyi, harus dapat berkisah, dan sekaligus harus dapat melawak.  Memang tidak ada pakem tertentu dalam memainkannya, tetapi yang paling sering adalah memulai pertunjukan dengan menyanyi sambil mengitari kalangan.  Satu-satunya pakem yang pasti adalah adanya seorang kepala dan ada seorang buntut.  Seorang kepala dalam pertunjukan reog berada di bagian depan, merupakan vokalis utama dalam menyanyi, dan berperan sebagai pengumpan joke dalam melawak.  Sementara seorang buntut adalah orang yang berada pada bagian akhir barisan, dan selalu dijadikan objek-penderita selama pertunjukan.  Adapun isi kisah dan lawakan, sering merupakan sindiran atau kritik sosial.  Reog adalah cara masyarakat menyalurkan rasa gundah gulananya..

Dalam semalam, para pekerja seni ini bebarang ke beberapa dukuh.  Mereka menghibur semua orang, untuk memastikan tidak ada orang yang sedih atau gundah melewati hari-hari Romadhon-nya.  Obrog adalah konsep mengamen pada malam hari, tetapi tidak dengan cara meminta imbalan, karena obrog adalah cara seniman menghibur semua orang.

Menjelang malam-malam terakhir Romadhon, obrog makin jarang ditemukan, karena dapat mengganggu kekhusyuan i’tikaf pada malam-malam ganjil Romadhon.  Orang dukuh ini sering menyebutnya sebagai malam likuran, karena tanggal-tanggal pada sepuluh hari terakhir disebut dengan selikur, rolikur, telulikur, padlikur, selawe, nemlikur, pitulikur, wolulikur, sangalikur dan telung puluh.  Meskipun begitu, beberapa obrog loudspeaker tidak memilih absen atau memperjarang bebarang-nya.  Suara cerita wayang kulit dari dalang-dalang pavorit bahkan makin sering diminta pada malam-malam likuran di dukuh ini.   Dalang Jublag dari Gegesik merupakan salah satu dalang kondang, tetapi tidak dapat disangkal kalau kaset-kaset yang banyak dimiliki orang adalah kaset-kaset dari Dalang Mansyur.  Tentang wayang kulit ini saya ingin bercerita dalam kesempatan tersendiri.

Selain wayang kulit, suara cerita yang sering diperdengarkan oleh obrog loudspeaker adalah cerita tarling.  Beberapa group tarling cukup populer, seperti Cahaya Muda piminan AT Ma’mun dan Dariyah, group Jaya Lelana piminan Jayana, group Putra Sangkala pimpinan Abdul Ajib, group Nada Budaya pimpinan Narto, group Candra Lelana pimpinan Maman, dan group Darma Muda pimpinan Yoyo Suwaryo.  Mereka bukan hanya banyak ditanggap, tetapi juga banyak melakukan rekaman cerita dalam bentuk pita kaset.  Tentang kesenian tarling pun saya ingin bercerita dalam kesempatan tersendiri, agar kalian tahu bahwa Cirebon merupakan gudang kesenian yang luar biasa.

Tradisi obrog baru usai ketika Idul Fitri dirayakan oleh orang ramai.  Sambil bersilaturahmi, bermaaf-maafan di hari Idul Fitri, kelompok-kelompok kesenian kembali mengelilingi daerah-daerah jelajah.  Kali ini, kelompok-kelompok kesenian itu mementaskan pertunjukannya dengan cara menjelajah sambil meminta sedekah.  Hitung-hitung sekedar balas jasa.  Jadi obrog dalam batas-batas pengertian ini adalah cara para seniman menghidupi diri, agar kreasi seni tidak mati.

Menceritakan tradisi obrog dewasa ini adalah menceritakan keprihatinan perkembangan seni tradisi.  Ia terdesak oleh siaran radio dan televisi yang merebut pemirsa hingga pagi hari.  Kalaupun hingga dewasa ini belum dikatakan mati, tetapi tradisi obrog tidak lagi menjadi sarana ekspresi seni tradisi.  Akhir-akhir ini, tradisi obrog hanya diramaikan oleh pertunjukan jenis-jenis kesenian pembangkit berahi.  Padahal pertunjukan jenis-jenis kesenian ini jelas-jelas menodai bulan Romadhon yang suci.

Sesungguhnya, melalui tradisi obrog ini, kami para seniman ingin tetap berekspresi meskipun berada di bulan suci.  Kami para seniman ingin tetap berkomunikasi dan bersilaturahmi.  Kami para seniman mengharapkan agar seni tradisi tetap memiliki tempat di hati.  Dan akhirnya, kami para seniman meminta pengertian agar seni tradisi tidak mati.

(bersambung)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s