/1/

Perkenalkan, namaku Kadinah.

Boleh jadi banyak orang tak mengenal namaku, dibandingkan dengan nama kakakku, Badiyah sang jagoan.  Setidaknya, banyak orang pada masa sekarang tak lagi mengenal namaku.  Apalagi mengenal siapa aku.  Karena itulah, aku perlu memperkenalkan diri.  Sekali lagi kuperkenalkan, namaku Kadinah.

Kini aku telah meninggal dunia, berada di alam yang berbeda dengan alam kalian.  Aku dikubur di taman pekuburan Wanakajir yang permai, di bawah pohon-pohon randu hutan raksasa yang kalian sebut pohon dander.  Kutinggalkan istriku, Warti, beserta anak dan cucu-cucunya yang sejak kecil kupelihara.  Sementara, satu-satunya anakku, seorang perempuan bernama Eri, sejak kecil ia tidak mau tinggal bersamaku.  Persoalannya adalah Warti memang bukan ibu kandungnya, sehingga barangkali hal ini membuat perasaan anakku tidak pernah nyaman tinggal di sisiku.  Ia memang hidup bersama ibunya, sampai saatnya ia kunikahkah dan hidup mandiri.  Dalam hal ini sebenarnya aku nelangsa: perkawinanku dengan Warti tidak membuahkan keturunan satu pun.

Sebelum aku meninggal, ketika aku dalam keadaan lemah karena didera penyakitku, aku masih dinasehati oleh seseorang yang sesungguhnya masih kubenci.  “Kang Kadinah.  Berhentilah merokok dan minum tehbruk.  Mulailah kembali makan.  Barangkali dengan cara ini badan akan kembali segar.  Penyakit yang ada di dalam tubuh, pasti akan berkurang ketika kebiasaan merokok dihentikan.  Selebihnya, karena makanan, penyakit di dalam tubuh akan habis tertumpas.  Percayalah….”

Nasehat itu tak berguna, apalagi datang dari orang yang kubenci.  Buat apa mengurangi kebiasaan yang membuat pikiranku dapat mengembara ke mana-mana, terutama kebiasaan merokok, toh sebentar lagi aku akan mati.  Larangan-larangan hanya akan menjadi tambahan penyiksaan yang menyakitkan bagi siapapun yang dekat sakaratul maut.  Maka, siapapun, turuti saja  apa kemauanku.  Biarkan aku tetap merokok dan minum tehbruk, dan jangan seorang pun berani menentangku.  Di alam kubur kini terbukti, bahwa tak ada sebatang rokok pun yang dapat kunikmati.  Juga tehbruk dengan bongkahan gula batu khas Cerbon.

Biarkan aku tetap merokok, dan jangan seorang pun berani menentangku.  Jangankan dokter, istri dan anak pun tak perlu melarangku.  Persetan semuanya.  Rokok adalah bagian dari hidupku, dan seperti yang juga kalian tahu, rokok juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dukuh ini.

Bukankah bagi orang-orang di kampung ini, merokok merupakan sesuatu yang lumrah?  Anak-anak yang lahir kemarin sore sekalipun, sudah pantas merokok.  Setidaknya menurut norma yang berlaku di dukuh ini.  Di dukuh ini, dalam hal rokok-merokok, perempuan setara dengan lelaki, boleh merokok.  Tak terlarang.  Istriku sendiri seorang perokok berat, sepertiku.  Bukan cuma istriku, lihat saja sederetan nama: Kasrem, Ateng, Sukarti, Siti, Ribut, Mar, dan yang lain-lain, semuanya adalah nama-nama perempuan perokok dari dukuh ini.  Rokok memang bagian dari denyut nadi dukuh ini.

Generasi-generasi di atasku biasa menggunakan kertas rokok dari kelopak-kelopak buah jagung.  Lembar-lembar kelopak pembungkus buah jagung itu dilepaskan satu per satu, dijemur hingga kering, dan kemudian dimanfaatkan sebagai kertas rokok dengan cara melintingnya.  Di dalam lintingan rokok dapat diisi dengan jenis-jenis tembakau kesukaan, yang banyak dijual di pasar-pasar.  Rasanya memang nyegrak, membuat tenggorokan langsung kering dan rongga hidung terasa panas.  Apalagi jika ditaburi sedikit kemenyan, rokok jagung bukan hanya membuat nyegrak tetapi juga membuat suasana menjadi mistis menyeramkan.  Klembak menyan memang dijual di pasar-pasar, tetapi orang-orang di dukuh ini pada zaman dahulu hanya udud klembak menyan pada malam Jemuah, karena klembak menyan bisa berfungsi ganda: sebagai rokok sekaligus untuk aktivitas membakar kemenyan malam Jumatan. Klembak menyan memang identik dengan rokoknya dukun.

Pada generasi kami hidup, sedikit demi sedikit rokok jagung tergeser popularitasnya oleh rokok kawung dan klobot.  Rokok kawung inilah yang pertama-tama kucoba, ketika usiaku masih sangat belia, sebelum akil baligh tiba.  Seperti namanya, rokok kawung adalah rokok yang menggunakan potongan daun kawung sebagai pembungkusnya dan berisi gumpalan tembakau yang besarnya menurut kemauan kita.  Pohon kawung atau pohon aren, atau disebut juga pohon kolang-kaling, sebenarnya tidak tumbuh di sekitar dukuh ini.  Pohon itu tumbuhnya di daerah kidulan, di wilayah Rajagaluh atau Prapatan.  Selain untuk lintingan rokok, daun kawung banyak dipakai sebagai atap rumah.  Hampir semua rumah-rumah di dukuh ini beratap daun kawung, terutama rumah-rumah yang tidak berada di tepi jalan raya.

Jika kalian mencobanya, rokok kawung tidak beda dengan rokok jagung.  Sama-sama nyegrak.  Tapi dasar wong Cerbon, rokok kawung yang nyegrak itu diubahnya menjadi rokok klobot yang menyejukkan.  Klobot itu sesungguhnya sama juga, berasal dari daun kawung, tetapi dengan terlebih dahulu direbus bersama adonan pasta gula merah dan ramuan lainnya.  Dengan pasta gula yang melekat pada daun kawung, rokok klobot menjadi lebih terasa manis.  Pada masa saya kecil, dukuh Kebonturi di desa Bringin dan daerah jalan gotrok di desa Arjawinangun, merupakan wilayah produksi klobot berkualitas.  Ketika mulai dewasa, kuketahui bahwa klobot cap Gareng merupakan klobot yang paling enak.  Setidaknya menurut seleraku.  Ketahuilah, setiap hisapan rokok klobot, ada mimpi kecil yang tercipta bagi seorang Kadinah.

Hendaklah kalian catat, bahwa menurut rasa-rasaku, aktivitas merokok di dukuh ini dapat dijadikan pertanda untuk menandai dari kelas mana seseorang berasal.  Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok kaum buruh tani, para tukang, dan para gerabad, umumnya terbagi menjadi dua kelompok.  Mereka yang sudah tua-tua, merupakan pengkonsumsi rokok jagung dan rokok kawung.  Sementara mereka yang merasa belum tua dari segi usia, kebanyakan merupakan pengkonsumsi rokok klobot.  Buat orang-orang yang sudah tua, yang penting adalah aktivitas rokoknya, asal ngebul. Bukan mencari gengsi dan bukan yang lain.

Di luar kalangan buruh tani, para tukang, dan para gerabad, dapat dipastikan termasuk ke dalam kelompok rokok klobot plus.  Artinya, meskipun sama-sama mengkonsumsi rokok klobot, tetapi hampir pasti mereka menggunakan tembakau yang berkualitas tinggi.  Masuk ke dalam kelompok ini adalah para pamong desa, ustadz, dan para petani yang bukan sebagai buruh tani.  Dari gayanya mereka merokok, jelas menunjukkan gengsi tersendiri.

Adapun para tuan tanah, seperti Wa Raden yang sawahnya berhektar-hektar, berbeda dengan kebanyakan orang-orang di dukuh ini.  Wa Raden merokok dengan menggunakan cangklong.  Tembakau tidak dilinting, melainkan dimasukkan ke dalam wadah cangklong, dan ia menghisapnya melalui pipa.  Wa Kaji juga sama, sambil manggut-manggut di kursi goyangnya, cangklong Wa Kaji tetap bergayut di mulutnya.

Pengelompokkan sosial ini segera berubah, ketika zaman mulai aman dan geliat pertanian semakin membaik.  Rokok jagung, rokok kawung, dan rokok klobot mulai tergeser oleh kehadiran rokok kretek.  Jadi kalau saya ingat-ingat, perubahan ini baru berlangsung sekitar tahun-tahun terjadinya peristiwa Gestok, Gerakan Satu Oktober, yang kalian sebut sebagai peristiwa G30S/PKI itu.  Wong Wanakajir itu fanatik penggemar rokok kretek Gudang Garam merah, Djaja, Sriwedari, Gentong, Minakdjinggo dan Jambu bol.

Aku adalah penggemar berat rokok kretek Gudang Garam merah.  Setiap kali kuhisap dalam-dalam, ada fantasi kejantanan.  Racikan sausnya pas untuk selera wong Cerbon: manis dan tidak berat ketika dihisap.  Sungguh, pada asap Gudang Garam yang terhisap, ada kenikmatan yang tak pernah bisa dilukiskan.

Jadi, biarkan aku tetap merokok, dan jangan seorang pun berani menentangku.

Sambil menikmati asap rokok, aku ingin bercerita panjang tentang Wanakajir, agar orang-orang yang masih hidup dapat mengenal sejarah dukuhnya.  Agar mereka bangga, kalau mereka lahir dari peju-peju para lelaki perkasa.  Agar mereka tahu, kalau kami adalah insan-insan ilahi yang taat mewarisi tradisi seni.  Bukankah sekarang sudah tidak hidup lagi kesenian sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling, di dukuh kalian?  Atau jawablah, kapan kalian terakhir kali menikmati seni sandiwara, topeng Cerbon atau wayang kulit?

(bersambung)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s