— Ringkasan Part-2—

Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling. Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat: seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.  Kadinah, dengan meminjam raga cucunya yang bernama Sumyati, menjelaskan secara panjang lebar mengenai kesenian sintren yang sudah mati.

/3/

Jika kalian masih ingin mendengar cerita, beri aku suguhan baru.  Ganti tehbruk yang sudah tidak panas lagi itu dengan yang baru.  Gunakan gula batu yang putih mengkristal, dan padukan dengan Teh Upet yang paling wangi.  Pilihkan teh terbaik, yakni yang paling menyengat mengandung aroma melati.  Lalu, jangan lupa, sebelum aku bercerita, suguhi aku Gudang Garam Merah dan taruhlah di bawah meja.  Tapi jika tak ada Gudang Garam Merah, merek cap Djaja juga tak apa-apa.

Adapun genjring, ini merupakan seni pertunjukan akrobatik yang dipadukan dengan seni tari, seni musik rebana, seni suara, dan debus.  Dulu, waktu muda, aku seorang pemain genjring. Bahkan kemudian menjadi pemilik grup genjring.  Belakangan, Rama, anak tiriku yang menjadi bapak dari Sumyati yang raganya kupinjam sekarang ini, adalah orang yang kuminta untuk meneruskan tradisi genjring di dukuh ini.

Mudah diduga mengapa pentas ini diberi nama genjring, yakni karena instrumen utamanya adalah beragam jenis rebana yang masing-masing memiliki telinga untuk tempat kecrek yang dapat menghasilkan bunyi jring-jring dengan sendirinya manakala bagian kulit rebana dimainkan.  Karena itu pula, rebana bertelinga disebut juga genjring.

Instrumen yang diperlukan dalam grup kesenian ini cukup aneka jenis genjring dan bedug saja.  Tiap-tiap jenis genjring, yang dibedakan berdasar garis tengah lingkaran genjring, minimal terdiri dari tiga, agar menghasilkan suara yang rampak dan mengemaMakin banyak instrumen yang dipakai akan makin menggema suara yang dihasilkannya, sehingga tidak diperlukan lagi bantuan pengeras suara.  Begitu juga dengan bedug, sekalipun cukup satu atau dua saja sudah memadai untuk suatu pertunjukan seni genjring, tetapi akan lebih megah apabila kesenian genjring ini menampilkan beberapa bedug.  Jika genjring menghasilkan suara-suara yang bernada tinggi, maka bedug adalah instrumen yang menghasilkan suara bernada rendah.

Aku rindu mendengar suara orkestra genjring.  Bing, pang.  Bing, pang. Dug, udug, udug. Begitu terus makin lama makin rampak, karena ketika intro baru satu rebana yang dimainkan oleh nayaga, tetapi kemudian segera ditingkah oleh penabuh bedug dan pemain rebana lainnya.  Pak-apak-apak, bing-ibing-ibing, Pak-apak-apak, bing-ibing-ibing. Pak-pak.  Bing-bing. Pak! Dug-dug, dug-dug, dug… Begitu seterusnya, dengan ritmik yang makin lama makin cepat, sehingga sekalipun belum ada seorang pun penari berada di atas panggung, terasakan seolah-olah musik itu sudah menjadi pengiring bagi gerakan-gerakan sejenis tari saman secara rampak.  Suara-suara yang dihasilkan oleh instrumen genjring dan bedug itu terasa hingga ke jantung-hati.

Mengingat seni genjring, aku jadi teringat pada beberapa nama.  Ada Deni, ada Dapiyah, ada Suta, dan ada yang lainnya.  Mereka adalah penabuh-penabuh genjring dari dukuh ini.

Setelah satu babak instrumen genjring selesai dimainkan, pertanda babak baru yang menyusulnya akan segera dipentaskan.  Beberapa penari, terdiri dari perempuan-perempuan cantik naik ke atas panggung, lalu kemudian kadang-kadang –tetapi tidak selalu– disusul oleh para penari lelaki.  Formasi penari laki-laki, jika ada, selalu ditempatkan di belakang penari perempuan.  Mereka membentuk formasi tarian sejenis tari saman yang berkembang di tanah Aceh.  Babak ini menandai tampilnya perpaduan antara musik, tari dan syair lagu.

Babak ini dibuka dengan syair intro yang dibawakan oleh beberapa orang.

Annakuun thabi ash-sholaah, annakuun thabi ash-sholaah…

            Thabi asya …dan segera disusul suara instrumen: bing pang, bing pang… dug, udug, udug! ….

            Dan mulailah gerakan gemulai para penari beraksi di atas panggung.  Makin lama, gerakannya makin cepat, tetapi dalam keadaan tetap rampak. Demikian juga dengan iringan musik dan syair lagu, makin lama makin cepat, meskipun tidak pernah berkurang sedikitpun nuansa estetisnya.       Pak-apak-apak, bing-ibing-ibing, Pak-apak-apak, bing-ibing-ibing. Pak-pak.  Bing-bing. Dug-dug, dug-dug, dug…

Tahukah kalian, kalau pemain dan penonton kesenian genjring ini menyukai penggalan syair lagu berikut ini:

Kuntul mulai jalan, kuntul mulai jalan

            Jalan Bandung ke Surabaya …

            Singgah di Pekalongan, singgah di Pekalongan

            ai…Kuntul sudah bertiga…

Ya, tari dan syair lagu itu disebut Kuntulan.  Isi syair lagu itu memang bercerita tentang migrasi burung-burung kuntul.  Migrasi burung dari arah barat ke arah timur, yang makin lama makin banyak, karena diikuti oleh burung-burung endemik lainnya.  Burung-burung yang disebut dalam lagu itu sekarang sudah menghilang.  Masih kuingat dengan jelas aneka kuntul di sawah.  Warnanya putih-putih, laksana kapas-kapas yang bertebaran di sawah-sawah, menunggu anak-anak katak dan ikan yang siap dimangsa.  Atau bertengger di dahan-dahan pohon randu alas, untuk beristirahat, sebelum mereka saatnya terbang kembali untuk bermigrasi.  Selain burung kuntul, ada jenis burung blekok dan burung bango. Mereka merupakan jenis-jenis burung yang masih sekeluarga: berbulu putih, berkaki panjang, berparuh panjang, dan bersayap lebar. Lahan-lahan sawah di sekitar dukuh ini merupakan ruang hidup yang nyaman bagi mereka.  Sedangkan pohon-pohon dander dan kesambi di pekuburan Wanakajir, merupakan habitat yang yang aman bagi anak-anak burung, sebelum mereka bisa terbang.  Mereka menempati dahan-dahan dander yang tinggi, sehingga tak terjangkau oleh tangan-tangan jahil manusia.

Dukuh Wanakajir memang menyediakan ruang hidup bagi burung-burung.  Burung endemik maupun burung migran.

Itulah tari dan lagu Kuntulan dalam seni genjring.

Menari secara rampak dengan diiringi orkestra genjring dan syair-syair lagu, membutuhkan harmonisasi yang luar biasa dari seluruh pemainnya.  Pentas genjring memang mampu menepis kesombongan-kesombongan manusia merasa diri lebih mumpuni.  Pentas genjring membutuhkan kebersamaan dan keharmonisan, bukan hanya dengan sesama penari, tetapi kebersamaan dan keharmonisan dengan penabuh dan penyanyi.  Bahkan seorang penari membutuhkan keharmonisan dengan syair lagu yang dinyanyikan.

Jangan tanyakan padaku mengapa aku menyebut kesenian genjring ini mirip dengan tari saman dari Aceh.  Semasa hidupku, aku tidak pernah menelusurinya.  Lagi pula itu bukan kewajiban seorang seniman.  Itu pekerjaan para akademisi.  Kerja kami adalah berkreasi, berkreasi, dan berkreasi untuk mengabdi melalui seni.  Ya, meski kami sadar bahwa jalan seni bukan jalan kehidupan, tetapi dunia akan sepi jika tak ada kesenian.  Biarkan kami, meski tiap hari cuma makan bubur atau makan srabi, yang penting dapat mengabdi melalui seni.

Babak ketiga dari pementasan kesenian genjring adalah pentas akrobatik.  Pentas ini mula-mula diperagakan oleh anak-anak: kayang, melompat dari tangga bambu, atau sekedar membentuk formasi sesama pemain.  Pentas ini memperlihatkan kelenturan gerakan tubuh, keseimbangan formasi, dan ketrampilan diri.  Tahap yang berikutnya diperagakan oleh pamain-pemain remaja.  Meskipun terkesan masih sama, tetapi sesungguhnya mereka memperagakan ketangkasan-ketangkasan bermain akrobat tingkat lanjut.  Beragam jenis tangga bambu yang dicat berwarna-warni dijadikan media akrobat yang memperlihatkan tingkat ketangkasan bermain.  Jika tidak menggunakan media tangga-tangga bambu, biasanya mereka bermain keseimbangan, menaiki sepeda di atas tali yang direntangkan di antara dua tangga bambu.  Kadang juga hanya memperagakan akrobatik berjalan di atas tali.

Puncak dari semuanya adalah babak keempat yang merupakan babak penutup.  Babak ini menampilkan beragam peragaan: debus dan sulap yang diselangselingi dengan peragaan bodor.  Peragaan ini hanya dilakukan oleh orang-orang terpilih.  Memakan bara api, menusuk pipi dengan kawat, atau makan ayam yang masih hidup, adalah jenis-jenis debus yang biasa.  Kami kerap memperagakan debus penguburan manusia, untuk membuktikan bahwa kami bukan grup kesenian genjring biasa.  Siapapun yang bersedia menjadi peraga, untuk dikubur di dalam tanah selama setengah sampai satu jam, buat kami tidak masalah.  Di antara masa tunggu itu, permainan sulap dipentaskan di atas panggung.  Dukuh kami memiliki seorang pesulap handal, yang bukan saja bermain dalam grup kami, tetapi juga sering dipesan oleh grup lain.  Di antara kengerian debus dan decak kagum sulap ini pentas bodor disuguhkan.  Bodor dengan berlagak seperti pemain sulap atau pawang debus, memperagakan hal-hal konyol.  Ia memang berfungsi mencairkan.

Melalui seni genjring, kami menghibur manusia dari segala umur. Melalui seni genjring pula, kengerian hidup diciptakan bukan untuk ditakuti tetapi untuk dijalani.

(bersambung)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s