/1/

Dukuh ini sejak awalnya memang bernama Wanakajir.  Awalnya hanya dihuni oleh beberapa keluarga.  Hampir seluruh anggota masyarakat dukuh ini masih berkerabat dekat, dihubungkan oleh silsilah keluarga atau tali ikatan perkawinan.  Makin lama, dukuh ini makin ramai, makin banyak penghuninya.  Setelah hidup bergenerasi, pada generasi-generasi yang kemudian, rengganglah hubungan kekerabatan seluruh warga.  Apalagi beberapa generasi penghubung telah meninggal dunia.  Memang, masih ada bentuk pengakuan ikatan kekerabatan, tetapi kerap direnggangkan oleh dinamika yang digelutinya.  Meskipun demikian renggang, seluruh warga dukuh ini masih menyimpan nama tokoh yang pada masanya cukup disegani: BADIYAH!

Badiyah adalah satu nama yang populer di dukuh Wanakajir. Bukan hanya populer, nama Badiyah adalah garansi.  Menyebut diri sebagai “Kakak Badiyah, adik Badiyah, keponakan Badiyah, ipar Badiyah, tetangga Badiyah, teman Badiyah, atau sahabat Badiyah” adalah sebuah garansi keamanan dan keselamatan.  Bahkan dalam batas-batas tertentu, menyebut diri sebagai wong Wanakajir, juga menjadi garansi keamanan dan keselamatan.

Badiyah terlahir dari suami-istri Madngali.  Tentang nama-nama ini ada tradisi yang unik, yang kini sudah terkikis.  Nama Madngali itu sebenarnya bukan nama asli orang tua.  Nama Madngali awalnya adalah nama anak tertua dari orang tua Badiyah.  Nama itu kemudian dilekatkan sebagai nama orang tua.  Nama asli suami-istri itu sudah banyak dilupakan orang-orang yang lahir sesudah tahun 1970-an.

Terdapat kebiasaan pada masyarakat di Jawa, nama mudah berganti karena beragam faktor.  Karena seseorang sering terserang penyakit, salah satu ikhtiar mengobatinya adalah dengan mengubah nama.  Karena seseorang bersekolah, lalu seorang guru memandang namanya tidak pantas disandang, maka nama santri itu diganti oleh gurunya, dan kemudian orang tua santri diminta untuk mengumumkan dalam perayaan ganti nama dengan membuat bubur merah-bubur putih.  Karena perjodohan, seringkali juga membuat nama harus diubah, terlebih apabila menurut perhitungan orang-orang tua pasangan perjodohan itu dapat mendatangkan kesialan hidup.  Atau, jika bukan karena itu, hanya karena sekedar nama salah satu dari pasangan perjodohan itu terlalu berat. Sesudah menikah, seorang istri bahkan seringkali membanggakan nama suaminya, dengan menambahi nama suami di belakang nama istri.  Setidaknya, sebagai bentuk penghormatan, warga akan menyebut nama istri itu dengan sapaan jabatan sang suami, semisal sapaan “Bu Lurah” atau “Bu Dokter”, karena ia menjadi istri seorang lurah atau dokter.  Bentuk penghormatan ini seringkali mengaburkan nama yang lama.

Yang lebih umum terjadi di dukuh Wanakajir adalah karena kehadiran anak pertama, maka nama seseorang bisa berubah.  Mungkin ini awalnya kebiasaan ini merupakan tradisi kalangan santri, tetapi meskipun Wanakajir bukan termasuk dukuh santri, perubahan nama karena kehadiran anak pertama sudah jamak terjadi di dukuh ini.  Karena itu, seseorang sering menegaskan nama di belakang nama seseorang, seperti penegasan nama pemilik pesantren di Babakan Ciwaringin dengan nama “Kiai Amin sepuh dan bukan Kiai Amin enom”, untuk membedakan bahwa yang disebut pertama adalah yang lebih senior, yakni bapak dari Kiai Amin enom, sedangkan yang disebut terakhir adalah yang lebih muda, yakni anak dari Kiai Amin sepuh. Begitulah, di dukuh Wanakajir ini, orang banyak sering mengucapkan kalimat seperti, “Itu sih Casmawi bocah, bukan Casmawi!” padahal nama “Casmawi” adalah nama lahir dari orang yang disebut sebagai “Casmawi bocah”.  Demikian juga dengan nama Madngali, nama kakak Badiyah itu, telah lekat menjadi pengganti nama ibu-bapaknya.

Bahkan nama bisa berubah sesudah wafat. Tradisi pemberian nama jenis ini bahkan lebih tua dari penggantian nama setelah kehadiran anak pertama.  Nama Sunan Gunung Jati telah mahfum diketahui oleh banyak orang sebagai nama anumerta dari Syarif Hidayatullaah, orang agung di bhumi Cerbon ini.  Demikianlah ada nama Ki Gede Jungsemi, dilekatkan kepada seorang bangsawan Cerbon yang menjadi pamong di dukuh Ujungsemi, justru setelah meninggalnya.  Ada nama Buyut Selapada yang dilekatkan kepada pendiri desa Selapada, yang kini dikenal dengan desa Bunder, juga merupakan nama anumerta.  Sekalipun tradisi nama anumerta ini tidak berkembang di dukuh Wanakajir, tapi hampir semua leluhur yang dimakamkan di pekuburan Wanakajir disapa dengan panggilan “Buyut”. Itulah mengapa kompleks pekuburan disebut juga dengan istilah “kabuyutan”.

Demikianlah, Badiyah adalah anak yang lahir dari suami-istri Madngali. Ibu tokoh kita ini bersuamikan dua.  Suami yang pertama bernama Niyah, dan dari perkawinan pertama ini lahir Madngali dan Durati.  Madngali lebih dikenal dengan nama Casmawi, karena memiliki anak pertama yang diberi Casmawi.  Sedangkan Durati lebih dikenal dengan nama Daru, karena memiliki anak pertama yang diberi nama Daru.  Tokoh-tokoh ini tidak banyak dikenal, dan karenanya mereka tidak dikenang oleh warga dukuh.  Yang mengenal dan mengenang mereka hanyalah keturunannya saja, itupun terbatas hanya pada beberapa generasi. Lebih dari itu, nama-nama mereka hanyalah penghias nisan di kabuyutan Wanakajir.

Setelah Niyah wafat, ibu tokoh kita ini dinikahi oleh orang tua Badiyah.  Lahir dari perkawinan dengan suami ke dua ini anak-anak yang bernama Caspi, Badiyah, Kadinah, dan Tarwinah.  Nama-nama ini sudah meninggal semua.  Nama yang terakhir, meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

/2/

Perjalanan hidup Badiyah tidak banyak diketahui orang.  Bahkan mungkin juga tidak diketahui oleh anak-anak dan cucu-cucunya.  Yang banyak diketahui oleh orang hanyalah tokoh Badiyah ini memiliki dua istri, yang pertama bernama Sutini dan yang kedua bernama Romlah.  Dari keduanya lahir beberapa anak, dan salah satu dari anaknya kini menjadi bekel, kepala dukuh, di Wanakajir.  Badiyah sendiri, pada awal pemerintahan Orde Baru, juga diamanati sebagai bekel. Bekal atau perbekel merupakan sebuah jabatan yang sudah ada sejak zaman Hindu, sebagai pemimpin yang otonom dari suatu dukuh, berada di bawah jabatan kuwu yang juga memiliki hak otonom.

Kehidupan pada awal kemerdekaan hingga geger PKI tahun 1965 di dukuh ini tidak ada bedanya dengan dukuh dan desa-desa lain di seluruh Jawa: miskin dan kelaparan, gelap dan menyeramkan, cerita mistik masih bertebaran, orang terdidik masih sangat jarang.  Meskipun begitu, gegap gempita kemerdekaan yang diproklamasikan di Jakarta, juga bergaung hingga ke dukuh ini.  Wanakajir pada awal kemerdekaan memang berada pada lintasan urat nadi lalu lintas Jakarta ke Cirebon dan sebaliknya, karena itu kabar lebih mudah tersebar.  Rakyat menyambut proklamasi dengan antusias, dan yang terpenting lagi adalah rakyat berperanserta dalam lasykar-lasykar sebagai benteng hidup negeri ini.  Begitulah suasana umum di Jawa.  Begitulah yang terjadi di Cirebon.  Begitulah yang terjadi di dukuh Wanakajir.  Begitulah yang dialami Badiyah remaja.

Sebagai anggota lasykar, memiliki ketrampilan bela diri saja tidak cukup.  Ia harus membekali dirinya dengan ilmu kekebalan, agar segala jenis senjata tak sampai melukai tubuhnya.  Jangankan tubuh yang dapat mengeluarkan darah dan menimbulkan perih, ilmu kekebalan yang dimiliki juga harus dapat membentengi setiap lembar rambutnya dari segala jenis senjata.  Ia pun harus menambahinya dengan ilmu sima, untuk menambah wibawanya.  Karena percuma saja memiliki ketrampilan bela diri dan kekebalan, jika tidak menggenapinya dengan ilmu sima.  Maka Badiyah remaja mulai gentur bertapa: mutih dan matigeni, tirakat dan nglowong.  Dari satu pertapaannya, Badiyah remaja menerima cincin yang di kemudian hari dapat membuat kebal tubuhnya.  Dari pertapaan yang lain, ia berhasil menggali kubur dan mengambil tali ikat pinggang mayat.  Dengan bekal tali ikat pinggang ini, sima-nya tersebar ke seluruh penjuru Cirebon-Indramayu.  Bahkan di masa tuanya, ketika Badiyah tak lagi memiliki kekebalan apa-apa, nama Badiyah masih cukup berwibawa.  Para pejabat desa, pejabat kecamatan, pejabat kepolisian, pejabat militer, semua segan kepadanya.  Di antara para gentho, garong, jawara, nama Badiyah cukup dihormati, sekalipun tak lagi memiliki kekebalan apa-apa.

Tentang kekebalan yang dimilikinya ini, Badiyah pernah mengisahkan begini.

“Pada masa perang kemerdekaan, yakni tahun-tahun antara 1945-1949, kerusuhan terjadi di mana-mana.  Lawan kita adalah Belanda NICA.  Kami dari lasykar rakyat yang tak bernama siap menghadapi mereka, sekalipun kami tidak bersenjata seperti mereka.  Senjata kami hanyalah golok, pedang, arit, kelewang, atau bambu runcing.  Sementara lawan, yakni Belanda NICA, bersenjatakan senapan-senapan mesin.  Jika kelompok kami diserang dan ditembaki, saya biasanya langsung berdiri, seperti menantang untuk ditembak mati.  Saya sering sesumbar menghadapi mereka, ‘Ayo habiskan peluru kalian! Atau kalian memilih  tewas terkena kelewang?!’ Sementara saya memerintahkan semua teman-teman saya untuk tiarap di belakang saya, tempat saya berdiri menjadi benteng hidup, berlindung agar terhindar dari terjangan peluru.  Pokoknya, dalam menghadapi peluru, hitungannya bukan satu atau dua peluru, tetapi satu atau dua kwintal peluru, silakan arahkan dan tembaki saya.”

Tak satu pun peluru menembus kulitnya.  Ia kebal.  Tokoh ini tetap segar bugar sampai akhir hayatnya.  Ini berkat cincin yang ia dapatkan dari hasil pertapaannya.

(bersambung)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s