Posts Tagged ‘kuwu’

— Ringkasan Part-1—

Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling.  Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat seperti seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.

/2/

Beri aku suguhan tehbruk yang kental dan sebungkus rokok kretek cap Gudang Garam Merah.  Lalu biarkan aku akan masuk ke dalam raga cucuku, Sumyati, meminjam tubuhnya, untuk menceritakan semua ini.  Agar kalian tahu, kalau leluhur kalian adalah insan-insan ilahi yang taat mewarisi tradisi seni.  Dan apabila cucuku, Sumyati, siuman kembali, atau tehbruk telah terasa hambar kau cicipi, itu pertanda aku telah pergi.

Ketahuilah.  Dulu, di pelataran depan rumahku, pada tiap-tiap malam purnama tiba, pagelaran seni sintren selalu dipentaskan dan tak pernah terlewatkan.  Sesungguhnya, lebih dari yang kalian kira, umur seni sintren lebih tua dari umur generasi para orang tua kita.  Ia lahir dari rahim masyarakat agraris, yang masih terlihat nyata dari isi mantra-mantra yang dilagukannya.  Ia adalah bentuk kesenian rakyat jelata, yang terwariskan dengan jelas dari instrumen-instrumen musiknya.

Ketika aku harus menjaga keberadaan seni sandiwara, seni sintren kutitipkan pada suami-istri Kampeng dan Ateng untuk melestarikannya. Pesanku ketika itu: peliharalah agar kampung kita tetap memiliki daya tarik bagi kampung-kampung tetangga. Meskipun aku tak lagi merawatnya, aku tak pernah lupa pada setiap tahapannya.  Bahkan aku sangat tahu, tentang filosofi apa yang ada di baliknya.

Setiap karya seni bagi pelakunya adalah puncak pengabdian diri kepada ilahi.  Ibarat petani yang setia melakukan sedekah bumi, kami para pekerja seni melakukan dzikir-dzikir melalui karya seni. Seumpama kalangan ulama yang dapat melahirkan fatwa, kami para pekerja seni melahirkan ekspresi dari jiwa-jiwa yang tak pernah mati.  Dan, laksana para pahlawan yang selalu bersedia untuk berkorban, kami para pekerja seni bersedia menjadi penjaga tradisi.  Begitulah, sintren adalah dzikir kami tentang keberadaan Dewa Indra di swargaloka dan para bidadari yang mengitarinya.  Apabila kami memohon para bidadari untuk turun ke alam dunia, merasuk ke dalam raga bocah, dan menghibur kami semua, itu pertanda kami selalu mengingat-Nya.  Begitulah, sintren adalah ekspresi jiwa-jiwa kami para kaum tani, mengabadikan bunga-bunga yang bermekaran menjadi syair-syair abadi.  Begitulah, sintren adalah lambang kesediaan berkorban dan sekaligus simbol kesediaan menjadi penjaga tradisi, ketika kami menggerakkan dan sekaligus digerakkan oleh mantra-mantra yang kami lantunkan.  Begitulah, pada kesederhanaannya, sintren adalah itu semua.

Tak ada museum yang merawat instrumen-instrumen musiknya.  Tapi jika kalian masih memiliki gendul-gendul yang tak lagi dipakai, kendi yang keberadaannya sudah tergeser oleh kulkas, buyung yang fungsinya sudah diganti oleh pipa-pipa dan selang-selang air, kumpulkan saja.  Kita harus menyiapkan museum kesenian sintren di dukuh ini, sebelum diselamatkan oleh orang-orang di negeri jiran.  Gendul dapat menghasilkan suara merdu ketika kau tiup bagian bibirnya.  Lubangi kendi pada bagian ujung perutnya, niscaya suara halus merdu akan bergema.  Apabila ditiup secara ritmik, suara yang dihasilkan gendul merupakan suara imitasi dari instrumen gong kecil.  Sedangkan suara yang dihasilkan oleh kendi dapat menyerupai suara instrumen gong besar.  Sementara, suara imitasi kendang dapat dihasilkan oleh instrumen buyung.  Caranya cukup sederhana, cukup dengan bantuan ilir, yakni kipas dari kulit bambu, yang dimainkan dengan cara mengibas-ngibaskan ke bagian mulut buyung.  Itulah instrumen utamanya.

Agar lebih meriah, potonglah beberapa ruas bambu, masing-masing dibentuk menyerupai gelas-gelas dengan berbagai ukuran.  Bila tiap-tiap ruas bambu itu dihentak-hentakkan ke bagian yang keras, atau dipukul-pukul laksana kentongan, maka akan menghasilkan suara yang meriah.  Bila suara ini ditingkah dengan kemeriahan kecrekan, niscaya pertunjukkan akan menunjukkan kedinamisannya.

Mungkin kalian bertanya, mengapa sesederhana itu instrumen-instrumen pengiringnya?  Ketahuilah kalau dalam seni sintren, instrumen-instrumen musik pengiring itu bukanlah hal yang utama.  Yang utama dalam pertunjukkan seni sintren sesungguhnya ada dua.  Pertama adalah para sinden, merekalah yang secara ritmis monoton mengalunkan mantera-mantera, menjadi leader bagi keseluruhan pertunjukan.  Keseluruhan bunyi musik, pada hakekatnya hanyalah sekedar pengiring alunan mantra-mantra yang dilagukan secara monoton untuk mempermudah terbentuknya kondisi trance bagi penari sintren.  Kedua adalah dalang, orang yang ada di balik semua pertunjukan, yang memungsikan diri sebagai sutradara, sebagai dukun, dan sekaligus sebagai pawang.

Subjek dan sekaligus objek dari semua pertunjukkan seni sintren adalah penari sintren itu sendiri.  Japa mantra yang merupakan jampi-jampi dari seorang dalang, ditiupkan pada buhul sang penari sebelum sang penari dicemplungkan ke kalangan. Lagu-lagu mantra yang dialunkan oleh para sinden, dapat menggerakkan subjek sang penari.  Dari langit, para bidadari yang perawan abadi meski selalu disetubuhi oleh para dewa yang senantiasa berahi, turun ke bumi dengan meminjam raga sang penari sebagai objek.   Itulah kenapa penari sintren harus seorang perawan.  Pada malam bulan purnama itu para bidadari mendatangi bumi, memasuki jiwa-jiwa perempuan perawan yang belum pernah datang bulan.  Itulah mengapa leluhur dukuh Wanakajir mempersyaratkan seorang penari sintren harus perawan yang belum pernah datang bulan. Sang penari sintren memang subjek sekaligus objek dalam pertunjukan.

Peran subjek dan objek pertunjukkan ini makin terasakan, manakala kita mencoba menikmati lirik-lirik lagu yang sekaligus merupakan mantra, yang dilantunkan oleh para pesinden dalam posisi melingkar, mengitari kurungan ayam yang didalamnya merupakan tempat bersemayamnya para bidadari yang menyatu dengan raga penari.  Mereka, para pesinden itu, sambil mengitarkan dupa-dupa kemenyan, melantunkan lirik-lirik lagu mantra berikut ini:

Turun-turun sintrén, sintréné widadari

Nemu kembang yun ayunan, nemu kembang yun ayunan

Kembangé si Jaya Indra, widadari temuruna

(Turunlah ke kalangan, wahai penari sintren, wahai objek sang bidadari

Kami mendapat karangan bunga, milik Batara Indra

Wahai bidadari turunlah menyatu dalam raga)

Lirik-lirik lagu itu dinyanyikan berulang-ulang secara monoton, dengan iringan musik yang juga monoton, sehingga memudahkan sang penari memasuki kondisi trance. Ini merupakan mantera wajib dalam pertunjukan sintren.  Dan lihatlah, apabila bidadari sudah turun ke dalam raga, keajaiban pun terjadi pada diri seorang penari sintren.  Sebelum dimasukkan ke dalam kurungan ayam, ia hanya berpakaian lusuh tanpa tata rias.  Sementara seluruh badannya dalam kondisi terikat sempurna, dalam ikatan yang dikunci dengan gembok.  Tetapi saksikanlah sesudah lagu-lagu mantra pengundang bidadari dilantunkan dan kurungan ayam dibuka, sang penari sintren telah berganti baju dengan tata rias yang menawan, meskipun ia masih tetap dalam kondisi terikat sempurna seperti sebelumnya.  Sementara pakaian lusuhnya, telah dilipat rapi dan berada di pangkuannya, menggantikan posisi pakaian baru yang kini dikenakannya.

Atau lihatlah keajaiban yang dapat kita saksikan berikutnya.  Setelah kembali kurungan digunakan dan dibuka, penari kini telah melepaskan semua rantai pengikatnya.  Menari dan melompat sesuai lirik manteranya.  Aku sebagai dalang, bahkan kerap memerintahkan para pesinden untuk menyanyikan lirik “Perkutut Manggung”, yang berarti akan ada keajaiban berupa penari sintren melompat ke atas kurungan ayam yang rapuh itu, dan bahkan pula membiarkan melompat ke atas genteng rumahku.  Ini adalah keajaiban yang tak dapat sembarangan dilakukan oleh para dalang, dan aku dengan bangga mengatakan bahwa aku sanggup memerintahkan hal itu.

Seperti pada umumnya, apabila penari terkena lemparan saweran dari penonton, ia segera tak sadarkan diri.  Tetapi hal ini sangat mudah penyelesaiannya.  Aku segera mendekapnya, dan meminta para pesinden melantunkan lirik-lirik lagu mantra berikut ini:

Kembang ki laras, beras abang putih kuning (2x)

Wong nontone aja maras, dalang sintren joged maning

(Kembang ki laras, beras merah putih kuning

Semua penonton tak usah khawatir, karena penari sintren akan menari kembali)

(bersambung)***

—Ringkasan Part-3—

Satu tokoh di dukuh Wanakajir yang melegenda adalah Badiyah, orang yang dikenal karena memiliki ketrampilan bela-diri, kebal, dan kharisma yang luar biasa.  Dengan memiliki sabuk mayat, Badiyah memulai petualangan baru yang mengantarkannya malang-melintang pada kehidupan dunia hitam.  Ketenarannya membuat dukuh Wanakajir selalu aman dari ancaman kriminal para pencoleng dan garong.  Karena ketenarannya pula, dukuh Wanakajir dan penduduknya selamat dari carut-marut penyembelihan manusia sepanjang dekade 1950-an dan 1960-an.

/8/

“Tak ada yang tahu, kalau saya tak lagi memiliki kekebalan sejak malam itu,” Badiyah menerawang ketika bercerita tentang luruhnya seluruh kekebalan yang dimiliki.

Pada waktu bertapa untuk menerima cincin yang membuat dirinya kebal, ia diberi amanat oleh leluhur,  “Janganlah kau memakan ‘daging mentah’.  Inilah satu-satunya pantangan untukmu.”  Ia mahfum atas larangan itu.  Semua orang yang gentur tapa dan hidup di Cirebon, dapat dengan mudah memaknainya, yakni larangan untuk tidak menyeleweng, berzinah.  Itulah makna ‘daging mentah’ dalam amanat itu.

Untuk masa yang lama ia tidak pernah tergoda.  Tetapi pada akhir tahun-tahun 1960-an, pesona seorang istri dari desa Guwa mampu meruntuhkan iman seorang Badiyah.  Suatu malam ia menyelinap masuk ke rumah seorang pamong desa Guwa, dan dengan tenang, selayaknya di rumah sendiri, ia masuk ke kamar istri pamong desa itu.  Ia menidurinya, manakala sang suami tak ada di rumah.

“Ke mana suamimu?”

“Paling-paling juga ke rumah janda muda di desa Slendra.”

“Ya.  Semua perilaku pamong desa itu bejat-bejat.  Alih-alih menjadi pamong bagi warganya, ia seringkali malah melemparkan janda-janda ke pelukan teman sesama pamong desa.”

“Itu urusan lelaki.  Yang pasti malam ini saya tidak sedih ditinggal selingkuh oleh suami.”

Esoknya, suara teriakan orang-orang di luar kamar mengagetkan Badiyah.  Pintu kamar digedor keras, dan ia kaget.  Dengan penuh kejantanan, masih memperlihatkan dadanya yang telanjang bidang, ia siap menghadapi semua orang.  Palang pintu dibuka, dan semua yang menunggu terhipnotis oleh kehadirannya.

Semua yang menunggu kemudian keluar, meninggalkan rumah itu satu per satu.  Sunyi-senyap menyelimuti desa Guwa, tak ada isyu tak ada rasan-rasan.  Suara kereta api yang melintas di sisi selatan desa itu pun hilang terbawa angin kencang.  Sementara, di sebelah selatannya lagi, pucuk-pucuk dander yang mulai menghijau dan ramai dihinggapi burung-burung manyar yang melakukan migrasi dan membuat sarang, hanya melambai-lambai.

“Siapa yang memanggil semua orang itu masuk ke dalam rumahmu?!” bentak Badiyah.

“Tidak tahu.  Ampun, Pak.  Tidak tahu.  Demi Tuhan.” Perempuan itu menangis sesenggukan.  Malu dan takut bercampur menjadi satu.  Malu pada masyarakat, dan takut pada lelaki yang kini ada di hadapannya, sang jagoan yang malang-melintang dalam dunia hitam.

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan ke sini.  Tak pantas.”

Keheningan kemudian hadir.  Lama.  Sampai kemudian Badiyah memecahkannya dengan suara tertekan dan dalam.  “Mana cincinku?”

“Ampun.  Tidak tahu, Pak.  Saya tidak mengambilnya.” Katanya pasrah.

“Mana?!!” suaranya meninggi, dan dengan kecepatan yang menyusulnya, hampir beriringan dengan suara tamparan tangan lelaki perkasa itu jatuh di pipi lembut perempuan.

“Ampuuuunn.” Ia menjerit seraya menutup mukanya dengan kedua tangan.  Membenamkan diri pada kasur yang kapuknya mulai cekung karena ditiduri semalaman.  Ia sudah pasrah.  Bahkan seandainya kematian sekalipun.  Siapa yang berani menghadapi sang jagoan.  Jangankan perempuan, lelaki seantero Dermayu pun mungkin akan takluk di bawah telapak kakinya.

Kedua orang tuanya diam.  Tak berani menghadapi.  Tak berani menyelamatkan anak perempuannya dari apapun yang mungkin akan terjadi.

Tetapi lengkingan ampunan perempuan itu segera menyadarkan Badiyah.  Perempuan itu tidak bersalah.  Bahkan pasti ia tidak mengambil cincin saktinya.  Yang salah adalah dirinya, melanggar amanat leluhur yang menitipkan cincin kekebalan kepadanya.  Pasti ia yang mengambilnya kembali.

Segera ia bergegas meninggalkan desa itu.  Dengan jalan memotong jalur Pilang Kandang, Badiyah memasuki dukuh Wanakajir dari arah utara.  Sepanjang jalan ia tak habis mengerti mengapa sampai bisa melanggar amanat leluhur yang membuat seluruh kesaktiannya kini luntur.  Buat seorang lelaki dengan ilmu kekebalan seperti Badiyah, tak ada larangan untuk menggauli perempuan yang disukainya.  Begitu tertarik pada seorang perempuan, tinggal minta pada orang tuanya secara baik-baik, menikahinya secara siri, dan kemudian menggaulinya.  Kapanpun.  Setelah bosan, ia bisa dengan bebas meninggalkannya.  Tak bakal ada yang berani untuk menggugatnya.  Kepala desa sekalipun.

“Ya, begitulah.  Tak ada yang tahu, kalau saya tak lagi memiliki kekebalan sejak malam itu.”

/9/

Memasuki dekade 1970-an dunia Jawa punya kisah sendiri.  Pemilu 1971 meninggalkan luka, khususnya bagi banyak simpatisan dan warga Nadliyin. Aparat desa, aparat kepolisian sektor dan aparat koramil, merupakan perpanjangan tangan dari Golkar dan mereka banyak mengintimidasi rakyat jelata.  Kiai Zuhdi, seorang ulama desa yang kharismatik, ditekan untuk tidak mempromosikan dan memilih NU dalam Pemilu.  Tekanan ini membuat keluarga dan seluruh kerabat kiai ketakutan.  Konon, anak lelakinya yang paling kecil, Farikin, dilempar ke balong oleh oknum-oknum perpanjangan Golkar, untuk membuktikan bahwa tekanan itu tidak main-main.

Tetapi dukuh Wanakajir menyimpan cerita lain.  Dukuh Wanakajir tidak dipetakan sebagai kampung hijau yang harus diwaspadai.  Lebih dari itu, hitam-putihnya dukuh Wanakajir hanya tergantung dari sikap seorang Badiyah saja.  Golkar menang mutlak di TPS-TPS yang ada di dukuh itu, dan entah berhubungan entah tidak dengan kemenangan Golkar, Badiyah diangkat menjadi seorang bekel, kepala dukuh atas dukuh Wanakajir.

Kehidupan memang seperti putaran roda pedati, bergulir perlahan memindahkan peran-peran manusia.  Badiyah yang dulu malang-melintang di dunia hitam, kini menjadi kepala dukuh, memimpin beberapa ratus warga penghuni dukuh Wanakajir.  Menjadi pamong dalam arti yang sesungguhnya.  Menjadi benteng yang harus pasang badan apabila terjadi apa-apa terhadap warganya.

Dukuh Wanakajir juga mengalami perubahan.  Awal tahun 1970-an Pemerintah membuat proyek jalan bypass antara Kalentanjung sampai Bunder, memperpendek jarak tempuh dibandingkan dengan harus mengambil rute Kalentanjung, Wanakajir, Lempong, Jatianom, Jatipura dan Bunder.  Proyek pembangunan jalan bypass ini segera membuat dukuh Wanakajir menjadi mati, kehilangan fungsinya sebagai urat nadi.  Jam tiga dini hari, yang biasanya sudah ramai oleh para gerabad yang singgah untuk sarapan pagi di dukuh itu, lama kelamaan tidak lagi.  Apalagi, setelah jalan raya berfungsi, mobil dan motor semakin tahun semakin banyak jumlahnya, tetapi tidak melintasi rute lama ke dukuh Wanakajir ini.

Perjalanan waktu memang mengubah segalanya.  Tapi bagi seorang Badiyah, berjalannya waktu ini melahirkan kecemasan dan kesepian.  Kedua kakak dan ketiga adik-adiknya sudah dikaruniai keturunan, anak dan bahkan cucu, sementara ia belum.  Padahal, usianya terus bertambah tua, dan dari istrinya ia belum memperoleh keturunan.  Kesepian tanpa batas ini membuat Badiyah nelangsa.

Badiyah kemudian menikahi Romlah, anak gadis Sartawi, salah seorang yang cukup terpandang di dukuh itu.  Dari perkawinan ini kemudian lahir beberapa anak.  Dan yang luar biasa, persis seperti cinta segitiga Sarah-Ibrahim-Hajar, kisah cinta segitiga Sutini-Badiyah-Romlah juga memiliki kesamaannya.  Menyusul Romlah mengandung anak-anak Badiyah, dari Sutini, meski sudah tidak dapat dibilang muda lagi usianya, lahir seorang putri, meneruskan trah Badiyah sang jagoan.

/10/

Hari-hari tuanya diisi dengan mendekatkan diri ke masjid.  Setelah keluar dari posisi komandan satpam pada satu unit Depot Logistik milik pemerintah, ia sepenuhnya menjadi orang rumahan.  Kedua istrinya membuka warung.  Sutini membuka warung makan di dekat Depot Logistik tempat Badiyah dulu bekerja, sementara Romlah membuka warung kelontong di rumahnya.

Badiyah tua kerap tergetar begitu suara adzan terdengar.  Ia ingin menebus masa lalunya yang kelam dengan sepenuhnya mendekatkan diri pada Tuhan.  Sampai Tuhan benar-benar memanggilnya, bukan lewat sang muadzin, tetapi lewat malaikatul maut.

Ia dikebumikan di pekuburan umum, di bawah pohon dander yang kokoh menjulang.

(habis)***

—Ringkasan Part-2—

Satu tokoh di dukuh Wanakajir yang melegenda adalah Badiyah, orang yang dikenal karena memiliki ketrampilan bela-diri, kebal, dan kharisma yang luar biasa.  Kekecewaannya terhadap kebijakan rasionalisasi yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Hatta, merupakan titik balik kehidupan tokoh ini.  Ia mulai menjalani kehidupan sebagai seorang garong.

Untuk menambah kedigjayaannya, Badiyah melakukan ritus mengambilan sabuk mayat dari mayat yang meninggal pada malam Selasa Kliwon.

/5/

Sabuk ikat pinggang mayat memang tak boleh diambil dengan tangan, ini pantangan untuk mendapatkan kedigjayaan.  Seseorang yang ingin digjaya harus mengambil sabuk itu dengan gigi.  Begitu gigi menggigit satu ujung sabuk dari kain mori itu, aroma tak sedap merasuki seluruh kepala.  Ia ingin muntah.  Bau bacin mayat yang berumur 40 hari menusuk-nusuk hidung hingga ke kepala dan perut.  Ia tetap bertahan, menggigit satu ujung kain mori kemudian menariknya hingga terlepas dari pinggang mayat.

Begitu berhasil mendapat ikat pinggang, Badiyah kabur.  Malang baginya, ia menabrak dinding kuburan dan akibatnya terjatuh di atas mayat.  Kembali aroma bau bacin menyeruak.  Ia baru sadar bahwa aksi melawan mayat itu tidak terjadi di tanah yang lapang, tetapi di dalam kuburan yang malam itu dia gali.  Dengan tenaga baru yang ia miliki karena keberhasilannya, segera ia melompat dari lubang kuburan.  Ia meninggalkan mayat begitu saja, yang membuat geger seluruh penjuru Eretan pada keesokan harinya.

Keberhasilan mendapat sabuk ini belum berakhir setelah berhasil meninggalkan mayat.  Ia terus diikuti oleh ruh yang meminta terus-menerus kain sabuknya.  Tiap malam ruh dari mayat itu meminta kembali kain sabuknya.  Tapi hal ini tidak menakutkan buat seorang Badiyah.  Jangankan sekedar ruh, setan saja tidak dapat berbuat apa-apa atas manusia.  Kuncinya cuma satu: biarkan saja!  Dengan mengabaikan kehadiran ruh atau setan, manusia akan berhasil menaklukkan ruh jahat sekalipun.

Dengan sabuk mayat ini, Badiyah dapat menyirep orang-orang seisi rumah, dan dengan demikian ia dapat masuk ke rumah itu tanpa ada masalah.  Mengambil apapun yang dibutuhkan dari rumah yang disatroninya, bukan masalah bagi seorang Badiyah.  Inilah petualangan baru yang mengantarkannya malang-melintang pada kehidupan dunia hitam.

Dengan memiliki seorang Badiyah, dukuh Wanakajir menjadi aman.  Tak ada maling tak ada perampok yang mengganggu dukuh ini.  Jangankan rumah terkunci, kerbau yang bebas dalam kandang tak terkunci saja tak akan ada yang berani menjarahnya.  Kalaupun sekali waktu ada maling bodoh mencuri di dukuh ini, akan dengan mudah dideteksi.  Dengan melihat arah jejak kaki dari mana dan ke mana, dapat diduga dengan mudah maling bodoh itu dari daerah mana.  Sementara dengan caranya jendela atau pintu dicongkel oleh maling, dapat diduga dengan mudah maling bodoh tersebut merupakan anggota kelompok mana.  Hanya dengan mengidentifikasi tempat kejadian perkara ini saja, dalam satu dua hari barang curian bisa kembali ke dukuh Wanakajir.  Tak perlu mengambil sidik jari, tak perlu mendeteksi DNA.

/6/

Tapi hidup sepanjang tahun 1950-an dan 1960-an merupakan kehidupan yang sungguh-sungguh sulit.  Panen padi yang datangnya hanya setahun sekali, bukan jaminan tersedianya stok logistik bagi seluruh warga desa.  Apalagi pada sepanjang dekade 1960-an, peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober, yakni G30S/PKI 1965) berdampak pada kesulitan mendapatkan beras dan melonjaknya harga pangan. Memang sepanjang dekade-dekade itu lebih baik dibanding pada waktu zaman Nippon, tetapi kemelaratan merupakan lukisan umum masyarakat di negeri ini.

Meski dukuh Wanakajir tidak memiliki pahlawan-pahlawan seperti dukuh Sindang dan Karangampel ketika terpaksa berhadapan dengan Dai Nippon, tetapi sungguh beruntung bahwa dukuh Wanakajir memiliki seorang pahlawan yang bernama Badiyah.  Pada setiap masa paceklik berkepanjangan melanda dukuh Wanakajir, Badiyah kerap memberikan hasil rampokannya untuk warga dukuh yang membutuhkan.  Apalagi hampir seluruh warga dukuh merupakan kerabatnya, yang dihubungkan karena pertalian darah maupun karena perkawinan.

Ketika distribusi air irigasi menimbulkan konflik, seorang Badiyah biasanya turun tangan.  Kalaupun tidak, nama besar Badiyah dapat menggeser prioritas distribusi air irigasi.  Dari kawasan Rentang, pusat distribusi irigasi Cimanuk, hingga kawasan Kapetakan di wilayah muara, sering berhutang jasa pada Badiyah.  Bahkan nama Badiyah sering dimanfaatkan untuk memanipulasi distribusi air irigasi Kali Cimanuk.

Namanya merupakan garansi keamanan.  Setidaknya demikianlah yang dialami oleh seluruh warga dukuh Wanakajir.  Begitu amannya lingkungan dukuh ini, hingga pada musim panen banyak warga pendatang dari berbagai penjuru datang ke dukuh ini.  Dari desa-desa terdekat biasanya hanya ngelajo, pulang pergi saja ke dukuh Wanakajir.  Sementara dari desa-desa yang cukup jauh, biasanya para pendatang tidak hanya sekedar ngelajo, tetapi juga ngurung.  Ngurung adalah istilah kaum agraris di Jawa yang berlawanan dengan nglajo.  Jika pada tradisi ngelajo seorang buruh tani akan pergi dan pulang ke/dari tempat kerja dalam hitungan satu hari, maka pada tradisi ngurung tidak.  Pada tradisi ngurung, seorang buruh tani akan menginap pada kerabat, teman sesama buruh atau bahkan pada majikan, selama musim panen.

Ketika daerah-daerah lain mengalami musim panen, penduduk dukuh Wanakajir juga banyak yang ngelajo atau ngurung ke daerah-daerah lain.  Dukuh Rancajawat, Wanguk, Parean, Pusakanegara, Pusakaratu, Pamanukan, Cilamaya, adalah sebagian dari nama-nama dukuh yang penduduknya sering datang ke Wanakajir dan sering didatangi oleh penduduk Wanakajir.  Nama-nama itu pada dewasa ini adalah nama-nama daerah di perbatasan kabupaten Majalengka, Indramayu, Subang dan bahkan Karawang.  Meskipun nama-nama daerah itu ada di wilayah yang mayoritas penduduknya berbahasa Sunda, tetapi nama-nama itu adalah nama-nama dukuh yang merupakan pendukung bahasa Jawa pesisiran.

/7/

Sejauh mana hubungan Tokoh kita ini dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), tidak dapat ditentukan.  Beberapa koleganya yang berasal dari dukuh Geyongan Ciwaringin, merupakan anggota atau simpatisan PKI.  Jangan tanya teman-teman Badiyah yang berasal dari wilayah Indramayu.  Wilayah Indramayu sejak awal kemerdekaan hingga tahun-tahun 1960-an merupakan pendukung kuat PKI.  Mr. Mohammad Yusuf, ketua partai berlambang palu arit ini, berasal dari daerah Indramayu.  Bahkan pada awal kemerdekaan, PKI sudah melakukan makar, dengan menyerang stasiun kereta api Kejaksan di kota Cirebon.  Tanggal peristiwanya adalah Februari 1946, hanya beberapa bulan setelah PKI didirikan sebagai tindak lanjut adanya Maklumat X (baca: eks) Pemerintah Republik.  Ini merupakan tindakan makar ideologis pertama terhadap pemerintah Republik.

Geger PKI tahun 1965 merembet ke mana-mana.  Wanakajir yang dilintasi lalu-lintas utama Jakarta-Cirebon, membuat kabar apapun yang berasal dari Jakarta akan sampai dengan mudah tercecer di Wanakajir.  Apalagi selain dilintasi lalu-lintas darat, Wanakajir juga tidak terlalu jauh dari Stasiun Kereta Api Kaliwedi.  Dengan tanpa harus memotong jalan, jarak dari Wanakajir ke Kaliwedi dapat ditempuh kurang dari satu jam jalan santai.

Meskipun geger PKI merembet ke mana-mana, di Wanakajir dan di Cirebon umumnya, geger ini tidak sedahsyat yang dilakukan DI/TII.  Pada masa-masa DI/TII, sejak proklamasi DI tahun 1949 hingga eksekusi Kartosuwiryo tahun 1962, penyembelihan orang kerap dilakukan oleh DI/TII, terutama terhadap para penghianat mereka.  Konon, seperti yang pernah diungkapkan oleh seorang anggota DI/TII, mereka tidak asal saja mengeksekusi.  Sebelum eksekusi dilakukan, telah ada ketetapan hukum yang diputuskan oleh pengadilan mereka.  Demikianlah pada masa-masa sepanjang 1950-an dan awal 1960-an, sungai Kaliwedi yang melintasi Bunder, Jatipura dan Jatianom kerap bersimbah darah karena adanya eksekusi oleh DI/TII ini.  Begitu juga dengan Kali Ciwaringin yang melintasi Tegalgubug, Karangsambung, dan terus ke arah Gegesik.  Pada sekitar geger PKI 1965, terjadi saling bunuh antara anggota PKI dan warga biasa, tetapi tidak sedahsyat waktu DI/TII.

Anehnya, dukuh Wanakajir selamat.  Tak ada korban DI.  Tak ada korban PKI.  Badiyah pun tidak ditangkap karena tuduhan terlibat PKI.  Sepanjang tahun 1950-an yang menjadi masa krisis bagi Jawa Barat, tidak dialami oleh dukuh Wanakajir.  Demikian juga sepanjang tahun 1960-an yang merupakan masa krisis bagi Jawa dan Bali, tidak menimpa dukuh itu.

(bersambung)***

—Ringkasan Part-1—

Satu tokoh di dukuh Wanakajir yang melegenda adalah Badiyah, orang yang dikenal karena memiliki ketrampilan bela-diri, kebal, dan kharisma yang luar biasa.  Masa remajanya dia lewati dengan bergabung dengan kelasykaran, membela Republik yang baru lahir ini.  Kahidupan mudanya ini membuat dia disegani baik oleh kalangan pemerintahan, kepolisian, militer, dan maupun oleh para pencoleng dan para jawara.

/3/

Hal yang menyedihkan bagi para anggota kelasykaran adalah kebijakan Pemerintah.  Pemerintah selalu saja tidak mengerti hati rakyatnya, baik itu raja maupun presiden.  Baik kaisar mapun perdana menteri.  Dan puluhan ribu rakyat yang tergabung dalam kelasykaran dikecewakan oleh kebijakan Perdana Menteri Hatta.  Sang Perdana Menteri mengeluarkan kebijakan rasionalisasi, dengan menyingkirkan rakyat yang tidak punya ijazah untuk tetap bergabung dalam kelasykaran.

Ini kebijakan yang melukai dan menyakitkan hati rakyat.  “Kami sama-sama berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.  Tapi, hanya karena kami tak memiliki ijazah, kami disingkirkan, kami dinistakan, dan kami dilarang bergabung dengan tentara untuk berkarier dalam kemiliteran.  Kebijakan macam apa Pemerintah ini?  Apa mereka mengira cecunguk-cecunguk lulusan sekolah itu bisa memegang senjata? Tidak!” Badiyah memprotes keras.

Begitulah sepanjang tahun 1948-1949 banyak rakyat jelata dan santri meninggalkan kelasykaran dan kembali menjadi petani atau kembali ke pesantren hidup mengaji.  Begitulah peran sejarah rakyat jelata dan para santri ditutup dengan kebijakan Pemerintah, dihapus dari kitab-kitab sejarah.  Sejarah kemudian memihak militer, mencatat dengan tinta emas bahwa pertahanan negeri ini pada masa Perang Kemerdekaan adalah monopoli para tentara.

“Kami kecewa, dan itulah yang mendorong keamanan negeri ini makin buruk.  Di sana-sini banyak muncul Barisan Sakit Hati, kelompok yang kecewa karena kebijakan militer Hatta.  Kelompok-kelompok ini merupakan kelompok-kelompok kecil, tersebar di mana-mana.  Hidup merampok dan menjarah.  Sebuah kehidupan baru yang dimulai dari rasa kecewa. Inilah titik balik sebuah cerita.”

“Untuk masa yang lama kami eksis sebagai kelompok Barisan Sakit Hati.  Bertemu dengan TNI kami harus baku tembak, bertemu dengan DI kami harus berantem, dan ketemu sesama BSH kami harus adu kesaktian dulu.  Untuk mempersenjatai diri, kami harus merampas senjata dari polsek atau koramil.  Beberapa yang kami rampas kami simpan dulu di sumur-sumur.  Kelak begitu senjata dibutuhkan, baru kami mengambilnya.  Sumur adalah gudang senjata kami.

Sementara untuk bertahan hidup kami terpaksa menggarong, merampok dan menjarah.  Begitu juga dengan kelompok BSH lain.

Bahkan buat para kepala desa dan orang-orang kaya, pada sepanjang masa Perang Kemerdekaan dan tahun-tahun sesudahnya, mereka tak dapat membedakan mana TNI, mana DI dan mana BSH.  Semuanya sama: Perampok!  TNI datang ke suatu desa, menemui kepala desa dan orang-orang kaya, minta makan dan kemudian membawa sejumlah logistik.  Malamnya DI datang juga sama, meminta makan dan kemudian membawa sejumlah logistik untuk perbekalannya.  Pada kali yang lain, kami datang.  Kami juga sama, sama seperti mereka, menjarah apa yang mereka miliki.  Tapi sejarah tidak jujur mencatat tragedi ini.

Untuk membuat kelompok kami ditakuti, kami harus melengkapi dengan kedigjayaan diri.” Kenang Badiyah pada suatu senja.

/4/

Badiyah memang dikenal sebagai salah satu orang yang digjaya.  Separuh wilayah Cerbon dan seluruh wilayah Dermayu pernah mendengar kabar kedigjayaannya.  Tubuhnya kebal dari senjata tajam dan peluru.  Perutnya mampu bertahan lama menerima berbotol-botol arak dan tuak apapun.

Perkara kharisma yang dimilikinya, bermula dari kepercayaan umum bahwa barangsiapa yang berhasil mengambil ikat pinggang mayat, dari mayat yang meninggal pada malam Selasa Kliwon, maka baginya akan tumbuh keberanian yang luar biasa dan ditakuti oleh siapapun.  Kepercayaan ini mendorong jiwa Badiyah remaja untuk memiliki dan memanfaatkan kedigjayaan ini untuk kehidupan yang lebih baik.

Maka dilewatilah laku tapa.  Mutih, yakni hanya makan nasi putih tanpa lauk, sekalipun sekedar garam, merupakan perilaku umum bagi siapapun yang ingin mendapatkan kedigjayaan.  Mutih, bukan hanya dilewati dengan makan hanya sekali setiap harinya, tetapi juga dilakukan selama empat puluh hari berturut-turut.  Selama masa ini, aktivitas sehari-hari tetap dilakukan.  Bekerja mencangkul di sawah atau di ladang, tetap dikerjakan dan tidak boleh diabaikan.  Perilaku ini dapat membuat daya tahan fisik manusia menjadi kuat, sekalipun cukup dengan asupan makanan sekedarnya.

Mutih yang utama bukan hanya pada tingkatan hanya sekali makan dalam sehari dan dilakukan selama empat puluh hari, tetapi juga dilakukan dengan cara hanya sekali tidur.  Perilaku ini yang lebih berat dibanding sekedar makan nasi putih.  Dalam siklus sehari-semalam, seseorang hanya dibolehkan sekali tidur.  Sekali terjaga, ia tidak boleh lagi tidur, betatapun ngantuk masih menggelayuti pelopak mata.

“Perilaku inilah yang terberat.  Tapi, ketahuilah, manusia itu makhluk yang paling mudah beradaptasi.  Yang terberat hanyalah pada awal-awal penyesuaian.  Setelah melewati masa seminggu, semua menjadi biasa.  Tidur setengah jam dalam semalam itu akan menjadi hal biasa.  Para jagoan dari zaman dahulu kerap melakukan tradisi ini, sehingga dalam kondisi terjepit, seperti ketika dalam pengejaran musuh, ia mampu hanya beristirahat lima sampai lima belas menit dalam sehari,” begitu Badiyah suatu kali bercerita.

Mengakhiri perilaku tapa mutih adalah aktivitas yang disebut dengan matigeni.  Matigeni berarti mematikan api, yakni seseorang harus melewati suasana tanpa penerangan karena penerangan bersumber dari api, tanpa makanan karena makanan dioleh dengan api, dan tanpa minuman karena minuman yang baik harus dimasak dengan api.  Matigeni bermakna membunuh semua perilaku buruk yang ada dalam diri manusia, yang dimanifestasikan dalam bentuk sehari semalam hidup sendiri tidak makan, tidak minum, tidak tidur.  Pada suasana seperti ini, pikiran dipusatkan pada keheningan, untuk mendapat kemukjizatan hidup.

“Jika aku mendapatkan cincin itu hasil bertapa di kuburan leluhur di dukuh ini, tidak demikian dengan sabuk mayat yang kumiliki.  Aku melewati hari-hari terakhir matigeni itu di daerah Eretan, di wilayah Dermayu.  Sesudah itu aku terus berpuasa, menunggu siapa yang meninggal pada malam Selasa Kliwon,” kenang Badiyah.

Pucuk dicinta ulam tiba, begitu peribahasa lama.  Peribahasa itu kini sudah berganti, mendamba lalapan datang ayam panggang. Maknanya sama, yakni berharap dalam penantian dan mendapat lebih dari sekedar harapan.  Di daerah Eretan ada beberapa orang yang meninggal pada malam Selasa Kliwon.  “Tapi mungkin juga banyak orang-orang yang menanti, sehingga bisa jadi kita harus bergulat dulu dengan orang-orang yang juga mencari sabuk mayat.  Ini hal yang biasa.”

Bukan cuma itu.  Setiap orang yang meninggal pada malam Selasa Kliwon, kuburannya setiap malam akan diterangi dengan petromaks dan dijaga sampai empat puluh malam.  Lewat dari empat puluh malam, sudah pasti aman, tak bakal ada yang menjarah kuburan untuk mendapatkan sabuknya.  Maka, selain menghadapi orang-orang yang juga mengharapkan sabuk mayat, juga harus siap menghadapi para penunggu kuburan yang menjaga pada sepanjang hari dan sepanjang malam.  Bila ketahuan, yang dihadapi bukan hanya para penjaga, tapi seluruh penduduk kampong.  Tapi ini resiko sebuah perjuangan.  Tak ada perjuangan yang tak membutuhkan resiko.

Kami memilih daerah Eretan karena suatu sebab.  Desa ini berada di tepi pantai.  Penduduknya bekerja sebagai nelayan, yang melaut ketika senja hari tiba.  Bukan cuma itu, Eretan adalah kawasan yang terpencil, antara Patrol dan Parean di timur baratnya.  Sementara desa-desa di sebelah selatan Eretan, terpisah jauh lewat dari jangkauan mata dan suara.  Di sebelah utara adalah laut Jawa, yang deburan ombaknya akan mengalahkan siapapun yang berteriak.  Pada malam hari sekalipun.

Yang lebih penting dari semuanya adalah kemudahan menggali.  Mayat tidak dikubur dalam-dalam dan tanahnya berair sepanjang tahun.  Daerah tepian laut memungkinkan tanah-tanah kuburan di sini mudah dimasuki air laut.  Menggali kembali kuburan dalam kondisi ini akan memudahkan.

Tepat pada saat orang-orang lalai, memperkirakan bahwa kuburan tak akan ada yang menjarah, pada malam keempat puluh kami beraksi.  Menjarah kuburan demi mendapatkan sabuk mayat untuk mendapatkan kharisma dan mempertebal kekebalan.

Rupanya pilihan daerah ini untuk memudahkan pekerjaan terbukti meleset.  Dengan dibantu oleh seorang teman, kami menggali kuburan sasaran dengan cangkul.  Tanahnya begitu liat, seperti mencangkul tanah merah yang keras tetapi dengan kelembaban air yang cukup.  Begitu sampai pada bagian lahat, kami sudah kehabisan tenaga.  Kami lunglai.  Dan yang luar biasa adalah mayat itu hidup.  Ia marah karena kami menggali kuburnya.  Ia menampar dan menginjak-injak saya.  Saya terpaksa harus menghadapi mayat yang marah. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, sebisa-bisanya saya kalahkan mayat itu.  Saya berhasil menelikung dan membantingnya.  Ia terjatuh, mengerang dan kemudian mati.  Mayat itu mati!  Kini mayat kembali menjadi mayat.

Sabuk ikat pinggang mayat tak boleh diambil dengan tangan, ini pantangan untuk mendapatkan kedigjayaan.  Seseorang yang ingin digjaya harus mengambil sabuk itu dengan gigi.

(bersambung)***

/1/

Dukuh ini sejak awalnya memang bernama Wanakajir.  Awalnya hanya dihuni oleh beberapa keluarga.  Hampir seluruh anggota masyarakat dukuh ini masih berkerabat dekat, dihubungkan oleh silsilah keluarga atau tali ikatan perkawinan.  Makin lama, dukuh ini makin ramai, makin banyak penghuninya.  Setelah hidup bergenerasi, pada generasi-generasi yang kemudian, rengganglah hubungan kekerabatan seluruh warga.  Apalagi beberapa generasi penghubung telah meninggal dunia.  Memang, masih ada bentuk pengakuan ikatan kekerabatan, tetapi kerap direnggangkan oleh dinamika yang digelutinya.  Meskipun demikian renggang, seluruh warga dukuh ini masih menyimpan nama tokoh yang pada masanya cukup disegani: BADIYAH!

Badiyah adalah satu nama yang populer di dukuh Wanakajir. Bukan hanya populer, nama Badiyah adalah garansi.  Menyebut diri sebagai “Kakak Badiyah, adik Badiyah, keponakan Badiyah, ipar Badiyah, tetangga Badiyah, teman Badiyah, atau sahabat Badiyah” adalah sebuah garansi keamanan dan keselamatan.  Bahkan dalam batas-batas tertentu, menyebut diri sebagai wong Wanakajir, juga menjadi garansi keamanan dan keselamatan.

Badiyah terlahir dari suami-istri Madngali.  Tentang nama-nama ini ada tradisi yang unik, yang kini sudah terkikis.  Nama Madngali itu sebenarnya bukan nama asli orang tua.  Nama Madngali awalnya adalah nama anak tertua dari orang tua Badiyah.  Nama itu kemudian dilekatkan sebagai nama orang tua.  Nama asli suami-istri itu sudah banyak dilupakan orang-orang yang lahir sesudah tahun 1970-an.

Terdapat kebiasaan pada masyarakat di Jawa, nama mudah berganti karena beragam faktor.  Karena seseorang sering terserang penyakit, salah satu ikhtiar mengobatinya adalah dengan mengubah nama.  Karena seseorang bersekolah, lalu seorang guru memandang namanya tidak pantas disandang, maka nama santri itu diganti oleh gurunya, dan kemudian orang tua santri diminta untuk mengumumkan dalam perayaan ganti nama dengan membuat bubur merah-bubur putih.  Karena perjodohan, seringkali juga membuat nama harus diubah, terlebih apabila menurut perhitungan orang-orang tua pasangan perjodohan itu dapat mendatangkan kesialan hidup.  Atau, jika bukan karena itu, hanya karena sekedar nama salah satu dari pasangan perjodohan itu terlalu berat. Sesudah menikah, seorang istri bahkan seringkali membanggakan nama suaminya, dengan menambahi nama suami di belakang nama istri.  Setidaknya, sebagai bentuk penghormatan, warga akan menyebut nama istri itu dengan sapaan jabatan sang suami, semisal sapaan “Bu Lurah” atau “Bu Dokter”, karena ia menjadi istri seorang lurah atau dokter.  Bentuk penghormatan ini seringkali mengaburkan nama yang lama.

Yang lebih umum terjadi di dukuh Wanakajir adalah karena kehadiran anak pertama, maka nama seseorang bisa berubah.  Mungkin ini awalnya kebiasaan ini merupakan tradisi kalangan santri, tetapi meskipun Wanakajir bukan termasuk dukuh santri, perubahan nama karena kehadiran anak pertama sudah jamak terjadi di dukuh ini.  Karena itu, seseorang sering menegaskan nama di belakang nama seseorang, seperti penegasan nama pemilik pesantren di Babakan Ciwaringin dengan nama “Kiai Amin sepuh dan bukan Kiai Amin enom”, untuk membedakan bahwa yang disebut pertama adalah yang lebih senior, yakni bapak dari Kiai Amin enom, sedangkan yang disebut terakhir adalah yang lebih muda, yakni anak dari Kiai Amin sepuh. Begitulah, di dukuh Wanakajir ini, orang banyak sering mengucapkan kalimat seperti, “Itu sih Casmawi bocah, bukan Casmawi!” padahal nama “Casmawi” adalah nama lahir dari orang yang disebut sebagai “Casmawi bocah”.  Demikian juga dengan nama Madngali, nama kakak Badiyah itu, telah lekat menjadi pengganti nama ibu-bapaknya.

Bahkan nama bisa berubah sesudah wafat. Tradisi pemberian nama jenis ini bahkan lebih tua dari penggantian nama setelah kehadiran anak pertama.  Nama Sunan Gunung Jati telah mahfum diketahui oleh banyak orang sebagai nama anumerta dari Syarif Hidayatullaah, orang agung di bhumi Cerbon ini.  Demikianlah ada nama Ki Gede Jungsemi, dilekatkan kepada seorang bangsawan Cerbon yang menjadi pamong di dukuh Ujungsemi, justru setelah meninggalnya.  Ada nama Buyut Selapada yang dilekatkan kepada pendiri desa Selapada, yang kini dikenal dengan desa Bunder, juga merupakan nama anumerta.  Sekalipun tradisi nama anumerta ini tidak berkembang di dukuh Wanakajir, tapi hampir semua leluhur yang dimakamkan di pekuburan Wanakajir disapa dengan panggilan “Buyut”. Itulah mengapa kompleks pekuburan disebut juga dengan istilah “kabuyutan”.

Demikianlah, Badiyah adalah anak yang lahir dari suami-istri Madngali. Ibu tokoh kita ini bersuamikan dua.  Suami yang pertama bernama Niyah, dan dari perkawinan pertama ini lahir Madngali dan Durati.  Madngali lebih dikenal dengan nama Casmawi, karena memiliki anak pertama yang diberi Casmawi.  Sedangkan Durati lebih dikenal dengan nama Daru, karena memiliki anak pertama yang diberi nama Daru.  Tokoh-tokoh ini tidak banyak dikenal, dan karenanya mereka tidak dikenang oleh warga dukuh.  Yang mengenal dan mengenang mereka hanyalah keturunannya saja, itupun terbatas hanya pada beberapa generasi. Lebih dari itu, nama-nama mereka hanyalah penghias nisan di kabuyutan Wanakajir.

Setelah Niyah wafat, ibu tokoh kita ini dinikahi oleh orang tua Badiyah.  Lahir dari perkawinan dengan suami ke dua ini anak-anak yang bernama Caspi, Badiyah, Kadinah, dan Tarwinah.  Nama-nama ini sudah meninggal semua.  Nama yang terakhir, meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

/2/

Perjalanan hidup Badiyah tidak banyak diketahui orang.  Bahkan mungkin juga tidak diketahui oleh anak-anak dan cucu-cucunya.  Yang banyak diketahui oleh orang hanyalah tokoh Badiyah ini memiliki dua istri, yang pertama bernama Sutini dan yang kedua bernama Romlah.  Dari keduanya lahir beberapa anak, dan salah satu dari anaknya kini menjadi bekel, kepala dukuh, di Wanakajir.  Badiyah sendiri, pada awal pemerintahan Orde Baru, juga diamanati sebagai bekel. Bekal atau perbekel merupakan sebuah jabatan yang sudah ada sejak zaman Hindu, sebagai pemimpin yang otonom dari suatu dukuh, berada di bawah jabatan kuwu yang juga memiliki hak otonom.

Kehidupan pada awal kemerdekaan hingga geger PKI tahun 1965 di dukuh ini tidak ada bedanya dengan dukuh dan desa-desa lain di seluruh Jawa: miskin dan kelaparan, gelap dan menyeramkan, cerita mistik masih bertebaran, orang terdidik masih sangat jarang.  Meskipun begitu, gegap gempita kemerdekaan yang diproklamasikan di Jakarta, juga bergaung hingga ke dukuh ini.  Wanakajir pada awal kemerdekaan memang berada pada lintasan urat nadi lalu lintas Jakarta ke Cirebon dan sebaliknya, karena itu kabar lebih mudah tersebar.  Rakyat menyambut proklamasi dengan antusias, dan yang terpenting lagi adalah rakyat berperanserta dalam lasykar-lasykar sebagai benteng hidup negeri ini.  Begitulah suasana umum di Jawa.  Begitulah yang terjadi di Cirebon.  Begitulah yang terjadi di dukuh Wanakajir.  Begitulah yang dialami Badiyah remaja.

Sebagai anggota lasykar, memiliki ketrampilan bela diri saja tidak cukup.  Ia harus membekali dirinya dengan ilmu kekebalan, agar segala jenis senjata tak sampai melukai tubuhnya.  Jangankan tubuh yang dapat mengeluarkan darah dan menimbulkan perih, ilmu kekebalan yang dimiliki juga harus dapat membentengi setiap lembar rambutnya dari segala jenis senjata.  Ia pun harus menambahinya dengan ilmu sima, untuk menambah wibawanya.  Karena percuma saja memiliki ketrampilan bela diri dan kekebalan, jika tidak menggenapinya dengan ilmu sima.  Maka Badiyah remaja mulai gentur bertapa: mutih dan matigeni, tirakat dan nglowong.  Dari satu pertapaannya, Badiyah remaja menerima cincin yang di kemudian hari dapat membuat kebal tubuhnya.  Dari pertapaan yang lain, ia berhasil menggali kubur dan mengambil tali ikat pinggang mayat.  Dengan bekal tali ikat pinggang ini, sima-nya tersebar ke seluruh penjuru Cirebon-Indramayu.  Bahkan di masa tuanya, ketika Badiyah tak lagi memiliki kekebalan apa-apa, nama Badiyah masih cukup berwibawa.  Para pejabat desa, pejabat kecamatan, pejabat kepolisian, pejabat militer, semua segan kepadanya.  Di antara para gentho, garong, jawara, nama Badiyah cukup dihormati, sekalipun tak lagi memiliki kekebalan apa-apa.

Tentang kekebalan yang dimilikinya ini, Badiyah pernah mengisahkan begini.

“Pada masa perang kemerdekaan, yakni tahun-tahun antara 1945-1949, kerusuhan terjadi di mana-mana.  Lawan kita adalah Belanda NICA.  Kami dari lasykar rakyat yang tak bernama siap menghadapi mereka, sekalipun kami tidak bersenjata seperti mereka.  Senjata kami hanyalah golok, pedang, arit, kelewang, atau bambu runcing.  Sementara lawan, yakni Belanda NICA, bersenjatakan senapan-senapan mesin.  Jika kelompok kami diserang dan ditembaki, saya biasanya langsung berdiri, seperti menantang untuk ditembak mati.  Saya sering sesumbar menghadapi mereka, ‘Ayo habiskan peluru kalian! Atau kalian memilih  tewas terkena kelewang?!’ Sementara saya memerintahkan semua teman-teman saya untuk tiarap di belakang saya, tempat saya berdiri menjadi benteng hidup, berlindung agar terhindar dari terjangan peluru.  Pokoknya, dalam menghadapi peluru, hitungannya bukan satu atau dua peluru, tetapi satu atau dua kwintal peluru, silakan arahkan dan tembaki saya.”

Tak satu pun peluru menembus kulitnya.  Ia kebal.  Tokoh ini tetap segar bugar sampai akhir hayatnya.  Ini berkat cincin yang ia dapatkan dari hasil pertapaannya.

(bersambung)***