Posts Tagged ‘kuwu’

— Ringkasan Part-1—

Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling.  Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat seperti seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.

/2/

Beri aku suguhan tehbruk yang kental dan sebungkus rokok kretek cap Gudang Garam Merah.  Lalu biarkan aku akan masuk ke dalam raga cucuku, Sumyati, meminjam tubuhnya, untuk menceritakan semua ini.  Agar kalian tahu, kalau leluhur kalian adalah insan-insan ilahi yang taat mewarisi tradisi seni.  Dan apabila cucuku, Sumyati, siuman kembali, atau tehbruk telah terasa hambar kau cicipi, itu pertanda aku telah pergi.

Ketahuilah.  Dulu, di pelataran depan rumahku, pada tiap-tiap malam purnama tiba, pagelaran seni sintren selalu dipentaskan dan tak pernah terlewatkan.  Sesungguhnya, lebih dari yang kalian kira, umur seni sintren lebih tua dari umur generasi para orang tua kita.  Ia lahir dari rahim masyarakat agraris, yang masih terlihat nyata dari isi mantra-mantra yang dilagukannya.  Ia adalah bentuk kesenian rakyat jelata, yang terwariskan dengan jelas dari instrumen-instrumen musiknya.

Ketika aku harus menjaga keberadaan seni sandiwara, seni sintren kutitipkan pada suami-istri Kampeng dan Ateng untuk melestarikannya. Pesanku ketika itu: peliharalah agar kampung kita tetap memiliki daya tarik bagi kampung-kampung tetangga. Meskipun aku tak lagi merawatnya, aku tak pernah lupa pada setiap tahapannya.  Bahkan aku sangat tahu, tentang filosofi apa yang ada di baliknya.

Setiap karya seni bagi pelakunya adalah puncak pengabdian diri kepada ilahi.  Ibarat petani yang setia melakukan sedekah bumi, kami para pekerja seni melakukan dzikir-dzikir melalui karya seni. Seumpama kalangan ulama yang dapat melahirkan fatwa, kami para pekerja seni melahirkan ekspresi dari jiwa-jiwa yang tak pernah mati.  Dan, laksana para pahlawan yang selalu bersedia untuk berkorban, kami para pekerja seni bersedia menjadi penjaga tradisi.  Begitulah, sintren adalah dzikir kami tentang keberadaan Dewa Indra di swargaloka dan para bidadari yang mengitarinya.  Apabila kami memohon para bidadari untuk turun ke alam dunia, merasuk ke dalam raga bocah, dan menghibur kami semua, itu pertanda kami selalu mengingat-Nya.  Begitulah, sintren adalah ekspresi jiwa-jiwa kami para kaum tani, mengabadikan bunga-bunga yang bermekaran menjadi syair-syair abadi.  Begitulah, sintren adalah lambang kesediaan berkorban dan sekaligus simbol kesediaan menjadi penjaga tradisi, ketika kami menggerakkan dan sekaligus digerakkan oleh mantra-mantra yang kami lantunkan.  Begitulah, pada kesederhanaannya, sintren adalah itu semua.

Tak ada museum yang merawat instrumen-instrumen musiknya.  Tapi jika kalian masih memiliki gendul-gendul yang tak lagi dipakai, kendi yang keberadaannya sudah tergeser oleh kulkas, buyung yang fungsinya sudah diganti oleh pipa-pipa dan selang-selang air, kumpulkan saja.  Kita harus menyiapkan museum kesenian sintren di dukuh ini, sebelum diselamatkan oleh orang-orang di negeri jiran.  Gendul dapat menghasilkan suara merdu ketika kau tiup bagian bibirnya.  Lubangi kendi pada bagian ujung perutnya, niscaya suara halus merdu akan bergema.  Apabila ditiup secara ritmik, suara yang dihasilkan gendul merupakan suara imitasi dari instrumen gong kecil.  Sedangkan suara yang dihasilkan oleh kendi dapat menyerupai suara instrumen gong besar.  Sementara, suara imitasi kendang dapat dihasilkan oleh instrumen buyung.  Caranya cukup sederhana, cukup dengan bantuan ilir, yakni kipas dari kulit bambu, yang dimainkan dengan cara mengibas-ngibaskan ke bagian mulut buyung.  Itulah instrumen utamanya.

Agar lebih meriah, potonglah beberapa ruas bambu, masing-masing dibentuk menyerupai gelas-gelas dengan berbagai ukuran.  Bila tiap-tiap ruas bambu itu dihentak-hentakkan ke bagian yang keras, atau dipukul-pukul laksana kentongan, maka akan menghasilkan suara yang meriah.  Bila suara ini ditingkah dengan kemeriahan kecrekan, niscaya pertunjukkan akan menunjukkan kedinamisannya.

Mungkin kalian bertanya, mengapa sesederhana itu instrumen-instrumen pengiringnya?  Ketahuilah kalau dalam seni sintren, instrumen-instrumen musik pengiring itu bukanlah hal yang utama.  Yang utama dalam pertunjukkan seni sintren sesungguhnya ada dua.  Pertama adalah para sinden, merekalah yang secara ritmis monoton mengalunkan mantera-mantera, menjadi leader bagi keseluruhan pertunjukan.  Keseluruhan bunyi musik, pada hakekatnya hanyalah sekedar pengiring alunan mantra-mantra yang dilagukan secara monoton untuk mempermudah terbentuknya kondisi trance bagi penari sintren.  Kedua adalah dalang, orang yang ada di balik semua pertunjukan, yang memungsikan diri sebagai sutradara, sebagai dukun, dan sekaligus sebagai pawang.

Subjek dan sekaligus objek dari semua pertunjukkan seni sintren adalah penari sintren itu sendiri.  Japa mantra yang merupakan jampi-jampi dari seorang dalang, ditiupkan pada buhul sang penari sebelum sang penari dicemplungkan ke kalangan. Lagu-lagu mantra yang dialunkan oleh para sinden, dapat menggerakkan subjek sang penari.  Dari langit, para bidadari yang perawan abadi meski selalu disetubuhi oleh para dewa yang senantiasa berahi, turun ke bumi dengan meminjam raga sang penari sebagai objek.   Itulah kenapa penari sintren harus seorang perawan.  Pada malam bulan purnama itu para bidadari mendatangi bumi, memasuki jiwa-jiwa perempuan perawan yang belum pernah datang bulan.  Itulah mengapa leluhur dukuh Wanakajir mempersyaratkan seorang penari sintren harus perawan yang belum pernah datang bulan. Sang penari sintren memang subjek sekaligus objek dalam pertunjukan.

Peran subjek dan objek pertunjukkan ini makin terasakan, manakala kita mencoba menikmati lirik-lirik lagu yang sekaligus merupakan mantra, yang dilantunkan oleh para pesinden dalam posisi melingkar, mengitari kurungan ayam yang didalamnya merupakan tempat bersemayamnya para bidadari yang menyatu dengan raga penari.  Mereka, para pesinden itu, sambil mengitarkan dupa-dupa kemenyan, melantunkan lirik-lirik lagu mantra berikut ini:

Turun-turun sintrén, sintréné widadari

Nemu kembang yun ayunan, nemu kembang yun ayunan

Kembangé si Jaya Indra, widadari temuruna

(Turunlah ke kalangan, wahai penari sintren, wahai objek sang bidadari

Kami mendapat karangan bunga, milik Batara Indra

Wahai bidadari turunlah menyatu dalam raga)

Lirik-lirik lagu itu dinyanyikan berulang-ulang secara monoton, dengan iringan musik yang juga monoton, sehingga memudahkan sang penari memasuki kondisi trance. Ini merupakan mantera wajib dalam pertunjukan sintren.  Dan lihatlah, apabila bidadari sudah turun ke dalam raga, keajaiban pun terjadi pada diri seorang penari sintren.  Sebelum dimasukkan ke dalam kurungan ayam, ia hanya berpakaian lusuh tanpa tata rias.  Sementara seluruh badannya dalam kondisi terikat sempurna, dalam ikatan yang dikunci dengan gembok.  Tetapi saksikanlah sesudah lagu-lagu mantra pengundang bidadari dilantunkan dan kurungan ayam dibuka, sang penari sintren telah berganti baju dengan tata rias yang menawan, meskipun ia masih tetap dalam kondisi terikat sempurna seperti sebelumnya.  Sementara pakaian lusuhnya, telah dilipat rapi dan berada di pangkuannya, menggantikan posisi pakaian baru yang kini dikenakannya.

Atau lihatlah keajaiban yang dapat kita saksikan berikutnya.  Setelah kembali kurungan digunakan dan dibuka, penari kini telah melepaskan semua rantai pengikatnya.  Menari dan melompat sesuai lirik manteranya.  Aku sebagai dalang, bahkan kerap memerintahkan para pesinden untuk menyanyikan lirik “Perkutut Manggung”, yang berarti akan ada keajaiban berupa penari sintren melompat ke atas kurungan ayam yang rapuh itu, dan bahkan pula membiarkan melompat ke atas genteng rumahku.  Ini adalah keajaiban yang tak dapat sembarangan dilakukan oleh para dalang, dan aku dengan bangga mengatakan bahwa aku sanggup memerintahkan hal itu.

Seperti pada umumnya, apabila penari terkena lemparan saweran dari penonton, ia segera tak sadarkan diri.  Tetapi hal ini sangat mudah penyelesaiannya.  Aku segera mendekapnya, dan meminta para pesinden melantunkan lirik-lirik lagu mantra berikut ini:

Kembang ki laras, beras abang putih kuning (2x)

Wong nontone aja maras, dalang sintren joged maning

(Kembang ki laras, beras merah putih kuning

Semua penonton tak usah khawatir, karena penari sintren akan menari kembali)

(bersambung)***

—Ringkasan Part-3—

Satu tokoh di dukuh Wanakajir yang melegenda adalah Badiyah, orang yang dikenal karena memiliki ketrampilan bela-diri, kebal, dan kharisma yang luar biasa.  Dengan memiliki sabuk mayat, Badiyah memulai petualangan baru yang mengantarkannya malang-melintang pada kehidupan dunia hitam.  Ketenarannya membuat dukuh Wanakajir selalu aman dari ancaman kriminal para pencoleng dan garong.  Karena ketenarannya pula, dukuh Wanakajir dan penduduknya selamat dari carut-marut penyembelihan manusia sepanjang dekade 1950-an dan 1960-an.

/8/

“Tak ada yang tahu, kalau saya tak lagi memiliki kekebalan sejak malam itu,” Badiyah menerawang ketika bercerita tentang luruhnya seluruh kekebalan yang dimiliki.

Pada waktu bertapa untuk menerima cincin yang membuat dirinya kebal, ia diberi amanat oleh leluhur,  “Janganlah kau memakan ‘daging mentah’.  Inilah satu-satunya pantangan untukmu.”  Ia mahfum atas larangan itu.  Semua orang yang gentur tapa dan hidup di Cirebon, dapat dengan mudah memaknainya, yakni larangan untuk tidak menyeleweng, berzinah.  Itulah makna ‘daging mentah’ dalam amanat itu.

Untuk masa yang lama ia tidak pernah tergoda.  Tetapi pada akhir tahun-tahun 1960-an, pesona seorang istri dari desa Guwa mampu meruntuhkan iman seorang Badiyah.  Suatu malam ia menyelinap masuk ke rumah seorang pamong desa Guwa, dan dengan tenang, selayaknya di rumah sendiri, ia masuk ke kamar istri pamong desa itu.  Ia menidurinya, manakala sang suami tak ada di rumah.

“Ke mana suamimu?”

“Paling-paling juga ke rumah janda muda di desa Slendra.”

“Ya.  Semua perilaku pamong desa itu bejat-bejat.  Alih-alih menjadi pamong bagi warganya, ia seringkali malah melemparkan janda-janda ke pelukan teman sesama pamong desa.”

“Itu urusan lelaki.  Yang pasti malam ini saya tidak sedih ditinggal selingkuh oleh suami.”

Esoknya, suara teriakan orang-orang di luar kamar mengagetkan Badiyah.  Pintu kamar digedor keras, dan ia kaget.  Dengan penuh kejantanan, masih memperlihatkan dadanya yang telanjang bidang, ia siap menghadapi semua orang.  Palang pintu dibuka, dan semua yang menunggu terhipnotis oleh kehadirannya.

Semua yang menunggu kemudian keluar, meninggalkan rumah itu satu per satu.  Sunyi-senyap menyelimuti desa Guwa, tak ada isyu tak ada rasan-rasan.  Suara kereta api yang melintas di sisi selatan desa itu pun hilang terbawa angin kencang.  Sementara, di sebelah selatannya lagi, pucuk-pucuk dander yang mulai menghijau dan ramai dihinggapi burung-burung manyar yang melakukan migrasi dan membuat sarang, hanya melambai-lambai.

“Siapa yang memanggil semua orang itu masuk ke dalam rumahmu?!” bentak Badiyah.

“Tidak tahu.  Ampun, Pak.  Tidak tahu.  Demi Tuhan.” Perempuan itu menangis sesenggukan.  Malu dan takut bercampur menjadi satu.  Malu pada masyarakat, dan takut pada lelaki yang kini ada di hadapannya, sang jagoan yang malang-melintang dalam dunia hitam.

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan ke sini.  Tak pantas.”

Keheningan kemudian hadir.  Lama.  Sampai kemudian Badiyah memecahkannya dengan suara tertekan dan dalam.  “Mana cincinku?”

“Ampun.  Tidak tahu, Pak.  Saya tidak mengambilnya.” Katanya pasrah.

“Mana?!!” suaranya meninggi, dan dengan kecepatan yang menyusulnya, hampir beriringan dengan suara tamparan tangan lelaki perkasa itu jatuh di pipi lembut perempuan.

“Ampuuuunn.” Ia menjerit seraya menutup mukanya dengan kedua tangan.  Membenamkan diri pada kasur yang kapuknya mulai cekung karena ditiduri semalaman.  Ia sudah pasrah.  Bahkan seandainya kematian sekalipun.  Siapa yang berani menghadapi sang jagoan.  Jangankan perempuan, lelaki seantero Dermayu pun mungkin akan takluk di bawah telapak kakinya.

Kedua orang tuanya diam.  Tak berani menghadapi.  Tak berani menyelamatkan anak perempuannya dari apapun yang mungkin akan terjadi.

Tetapi lengkingan ampunan perempuan itu segera menyadarkan Badiyah.  Perempuan itu tidak bersalah.  Bahkan pasti ia tidak mengambil cincin saktinya.  Yang salah adalah dirinya, melanggar amanat leluhur yang menitipkan cincin kekebalan kepadanya.  Pasti ia yang mengambilnya kembali.

Segera ia bergegas meninggalkan desa itu.  Dengan jalan memotong jalur Pilang Kandang, Badiyah memasuki dukuh Wanakajir dari arah utara.  Sepanjang jalan ia tak habis mengerti mengapa sampai bisa melanggar amanat leluhur yang membuat seluruh kesaktiannya kini luntur.  Buat seorang lelaki dengan ilmu kekebalan seperti Badiyah, tak ada larangan untuk menggauli perempuan yang disukainya.  Begitu tertarik pada seorang perempuan, tinggal minta pada orang tuanya secara baik-baik, menikahinya secara siri, dan kemudian menggaulinya.  Kapanpun.  Setelah bosan, ia bisa dengan bebas meninggalkannya.  Tak bakal ada yang berani untuk menggugatnya.  Kepala desa sekalipun.

“Ya, begitulah.  Tak ada yang tahu, kalau saya tak lagi memiliki kekebalan sejak malam itu.”

/9/

Memasuki dekade 1970-an dunia Jawa punya kisah sendiri.  Pemilu 1971 meninggalkan luka, khususnya bagi banyak simpatisan dan warga Nadliyin. Aparat desa, aparat kepolisian sektor dan aparat koramil, merupakan perpanjangan tangan dari Golkar dan mereka banyak mengintimidasi rakyat jelata.  Kiai Zuhdi, seorang ulama desa yang kharismatik, ditekan untuk tidak mempromosikan dan memilih NU dalam Pemilu.  Tekanan ini membuat keluarga dan seluruh kerabat kiai ketakutan.  Konon, anak lelakinya yang paling kecil, Farikin, dilempar ke balong oleh oknum-oknum perpanjangan Golkar, untuk membuktikan bahwa tekanan itu tidak main-main.

Tetapi dukuh Wanakajir menyimpan cerita lain.  Dukuh Wanakajir tidak dipetakan sebagai kampung hijau yang harus diwaspadai.  Lebih dari itu, hitam-putihnya dukuh Wanakajir hanya tergantung dari sikap seorang Badiyah saja.  Golkar menang mutlak di TPS-TPS yang ada di dukuh itu, dan entah berhubungan entah tidak dengan kemenangan Golkar, Badiyah diangkat menjadi seorang bekel, kepala dukuh atas dukuh Wanakajir.

Kehidupan memang seperti putaran roda pedati, bergulir perlahan memindahkan peran-peran manusia.  Badiyah yang dulu malang-melintang di dunia hitam, kini menjadi kepala dukuh, memimpin beberapa ratus warga penghuni dukuh Wanakajir.  Menjadi pamong dalam arti yang sesungguhnya.  Menjadi benteng yang harus pasang badan apabila terjadi apa-apa terhadap warganya.

Dukuh Wanakajir juga mengalami perubahan.  Awal tahun 1970-an Pemerintah membuat proyek jalan bypass antara Kalentanjung sampai Bunder, memperpendek jarak tempuh dibandingkan dengan harus mengambil rute Kalentanjung, Wanakajir, Lempong, Jatianom, Jatipura dan Bunder.  Proyek pembangunan jalan bypass ini segera membuat dukuh Wanakajir menjadi mati, kehilangan fungsinya sebagai urat nadi.  Jam tiga dini hari, yang biasanya sudah ramai oleh para gerabad yang singgah untuk sarapan pagi di dukuh itu, lama kelamaan tidak lagi.  Apalagi, setelah jalan raya berfungsi, mobil dan motor semakin tahun semakin banyak jumlahnya, tetapi tidak melintasi rute lama ke dukuh Wanakajir ini.

Perjalanan waktu memang mengubah segalanya.  Tapi bagi seorang Badiyah, berjalannya waktu ini melahirkan kecemasan dan kesepian.  Kedua kakak dan ketiga adik-adiknya sudah dikaruniai keturunan, anak dan bahkan cucu, sementara ia belum.  Padahal, usianya terus bertambah tua, dan dari istrinya ia belum memperoleh keturunan.  Kesepian tanpa batas ini membuat Badiyah nelangsa.

Badiyah kemudian menikahi Romlah, anak gadis Sartawi, salah seorang yang cukup terpandang di dukuh itu.  Dari perkawinan ini kemudian lahir beberapa anak.  Dan yang luar biasa, persis seperti cinta segitiga Sarah-Ibrahim-Hajar, kisah cinta segitiga Sutini-Badiyah-Romlah juga memiliki kesamaannya.  Menyusul Romlah mengandung anak-anak Badiyah, dari Sutini, meski sudah tidak dapat dibilang muda lagi usianya, lahir seorang putri, meneruskan trah Badiyah sang jagoan.

/10/

Hari-hari tuanya diisi dengan mendekatkan diri ke masjid.  Setelah keluar dari posisi komandan satpam pada satu unit Depot Logistik milik pemerintah, ia sepenuhnya menjadi orang rumahan.  Kedua istrinya membuka warung.  Sutini membuka warung makan di dekat Depot Logistik tempat Badiyah dulu bekerja, sementara Romlah membuka warung kelontong di rumahnya.

Badiyah tua kerap tergetar begitu suara adzan terdengar.  Ia ingin menebus masa lalunya yang kelam dengan sepenuhnya mendekatkan diri pada Tuhan.  Sampai Tuhan benar-benar memanggilnya, bukan lewat sang muadzin, tetapi lewat malaikatul maut.

Ia dikebumikan di pekuburan umum, di bawah pohon dander yang kokoh menjulang.

(habis)***