Wanakajir adalah nama sebuah “paruk”, dusun kecil di tengah kerontang panas dataran rendah pantai utara Jawa. Paruk itu dilintasi oleh jalan kuno, jalan pedati dan sepeda, dengan lebar jalan 3 meter. Satu arah menuju ke Cadangpinggan, sebuah desa yang kini masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Suka Gumiwang Kabupaten Indramayu. Arah yang lain menuju desa-desa di Kabupaten Cirebon. Paruk itu sendiri berada di perbatasan kedua kabupaten, dan Wanakajir adalah pintu gerbang sebelah barat untuk wilayah Kebupaten Cirebon.

Untuk lebih mudah, carilah melalui googlemap. Nama itu dapat segera ditemukan. Yang pasti, nama dukuh itu sudah ada pada peta kuno. Bahkan, Microsoft Encarta, sebuah eksiklopedia elektronik, menyimpan nama dukuh itu pada CD/DVD yang dipublikasikannya, suatu pertanda bahwa dukuh itu merupakan pedukuhan kuno.

Tentang asal-usul nama itu, dapat diduga dengan mudah, bahwa nama itu terdiri dari dua kata: “wana” dan “kajir”.  Wana berarti “hutan”, dan tentang arti ini tidak menimbulkan kontroversi.  Sedangkan kata kajir ada silang pendapat yang berbeda.  Ada pendapat bahwa kajir itu berasal dari “khinzir” (berasal dari bahasa Arab, berarti “babi”), sehingga paduan kedua kata itu bermakna “hutan yang penuh dengan babi”.  Tetapi ada juga pendapat lain, bahwa kajir itu berasal dari kata “anjir”, yang berarti “tanda”, sehingga paduan kedua kata itu bermakna “hutan sebagai tanda”.  Apapun asal namanya, yang pasti di dukuh Wanakajir itu masih menyimpan beberapa pohon randu hutan, pohon tua menjulang tinggi, yang dari kejauhan dewasa ini berfungsi sebagai “tanda” atau petunjuk bagi warga tentang keberadaan dukuh itu.

Sejumlah tokoh lahir dan besar di dukuh ini.  Ada tokoh senior: Bekel Sadimah, Bekel Badiyah sang Robinhood, Bekel Masrap, Durati, Raswi, Kadinah, Wa’ Kaji, Wa Nini, Mitra, Wa Kasrem sang pendongen, Lebe Tarmidi, Warman, dan lain-lain.  Mereka sudah almarhum, meninggalkan dukuh Wanakajir yang mereka cintai, membawa mimpi ke alam kubur tentang kebangkitan dukuh itu suatu ketika, menantikan generasi yang lebih baru untuk bangkit meneruskan cita-cita mereka.

Di bawah generasi mereka ada Dapiyah, Lebe Samri, Masduki, Bekel Damun, Nendra, Darsam, H. Sarwilah, Januri, dan lain-lain.  Generasi ini masih hidup, merupakan generasi anak-anak tokoh-tokoh di atas.

Di Blog ini saya ingin mendokumentasikan mereka.  Saya ingin menceritakannya untuk Anda.  Menjadi saksi bagi mereka.  Agar ada di antara mereka bangga pada dukuh dan pada leluhurnya.  Agar mereka tahu, kalau pendahulu mereka punya cita-cita yang belum terlaksana. Agar mereka dapat mewujudkan cita-cita.

Jika ada nama yang layak tapi belum masuk, mohon kiranya Anda mengirimi saya data.

Untuk melihat lebih jelas posisi geografis dukuh Wanakajir, di bawah ini ditempelkan beberapa peta.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Peta-1 Dukuh Wanakajir di Antara Dukuh-Dukuh Lainnya
(peta diolah dari Microsoft Encarta Encyclopedia 2007)
(klik Peta untuk memperbesar tampilan)

Dalam lalu lintas kuno, dukuh Wanakajir merupakan dukuh yang strategis.  Dukuh dibelah dan dilintasi oleh jalur transportasi darat yang menghubungkan sejumlah dukuh-dukuh yang ada di arah barat dan arah timur.  Ke arah barat, Wanakajir merupakan gerbang barat Kabupaten Cirebon, menghubungkan sejumlah dukuh-dukuh di Cirebon dengan Cadangpinggan Kecamatan Sukagumiwang yang merupakan gerbang masuk Kabupaten Indramayu.  Dari Cadangpinggan ini lalu lintas kuno ke arah utara menembus Jatibarang, Indramayu dan arah Jakarta; sementara ke arah selatan menembus Tersana, Gunungsari, hingga ke Jatiwangi di Kabupaten Majalengka.

Ke arah timur, dukuh Wanakajir merupakan gerbang masuk bagi (1) desa Guwa dan selanjutnya ke dukuh-dukuh di utara dan baratlaut kota Cirebon; (2) ke desa/kecamatan Kaliwedi, yang menjadi penghubung ke dukuh-dukuh di utara dan barat kota Cirebon; (3) ke desa Jatianom, yang menjadi penghubung ke arah Budur, Ciwaringin dan Prapatan yang ada di arah selatan dukuh Wanakajir, menyatu dengan Jalan Pos Proyek Daendels yang membentang dari Sumedang ke kota Cirebon.

Dukuh ini memainkan peran strategis dalam lalu-lintas masa lampau, yang menghubungkan dukuh Wanakajir dengan dukuh, desa, kota di seluruh jagat raya.

Peta-2 Dukuh Wanakajir sejak awal 1970-an
(peta diolah dari Microsoft Encarta Encyclopedia 2007)
(klik Peta untuk memperbesar tampilan)

             Proyek Jalan Bypass yang menghubungkan Cadangpinggan dan Arjawinangun melalui Bundermire (Bunder) dan Tegalgubung, membuat dukuh Wanakajir tergeser dari keramaian lalu-lintas.  Jalan PU yang membelah dukuh hanya merupakan jalan kelas IV dan menjadi alternatif pengalihan lalu-lintas manakala jalan bypass bermasalah.  Dukuh Wanakajir hanya menjadi periferi saja.

Peta-3 Dukuh Wanakajir dan Jalur Pantura
(peta diolah dari Microsoft Encarta Encyclopedia 2007)
(klik Peta untuk memperbesar tampilan)

            Kepadatan lalulintas transportasi pada jalan bypass, membuat pemerintah menelurkan dua kebijakan.  Pertama, Jalan Raya Pantura (Pantai Utara) Cikampek-Palimanan diperlebar, pada masing-masing arah dibuat dua lajur, dan mengharuskan kendaraan berat berjalan di lajur dua (tengah) untuk meminimalisir kecelakaan.  Kedua, pemecahan arus dimulai dari Lohbener, dengan mengaktifkan jalan pantura Lohbener-Indramayu-Karangampel-CirebonKota.  Kebijakan pemecahan arus ini terutama dikarenakan jalur utama melalui Lohbener-Jatibarang-Arjawinangun kerap macet tiap hari Selasa dan Sabtu karena ramainya aktivitas Pasar Sandang Tegalgubug.

Dukuh Wanakajir yang sudah tergeser dari keramaian lalu-lintas itu, dengan adanya kebijakan ini menjadi semakin sepi.

Peta-4 Dukuh Wanakajir dan Prestasi Megawati
(peta diolah dari Microsoft Encarta Encyclopedia 2007)
(klik Peta untuk memperbesar tampilan)

            Di antara minimnya prestasi infrastruktur yang dicapai oleh Presiden Megawati, proyek jalan bypass Jatibarang-Cemara merupakan prestasi Presiden Megawati.  Proyek jalan ini tidak berdampak apapun pada dukuh Wanakajir.  Sementara dukuh-dukuh di sepanjang jalur lama Jatibarang-Lohbener, seumpama dukuh Ujung Aris, lambat-laun akan mengalami nasib yang sama dengan dukuh Wanakajir.

Peta-5 Dukuh Wanakajir dan Proyek Jalan Tol
(peta diolah dari Microsoft Encarta Encyclopedia 2007)
(klik Peta untuk memperbesar tampilan)

            Pembuatan Jalan Tol Palimanan-Kanci yang berpangkal di desa Tegalkarang Palimanan, sesungguhnya tidak berpengaruh apa-apa bagi dukuh Wanakajir.  Tetapi, apabila proyek jalan tol Sadang-Palimanan segera terealisir, maka akan mengakibatkan pengaruh yang luar biasa bagi dukuh Wanakajir.  Dukuh itu akan hilang dari percaturan lalu-lintas.  Konsekuensi dari kehilangan percaturan ini adalah Dukuh Wanakajir tidak akan berkembang, bahkan sebaliknya akan mengalami kemunduran.

Dukuh Wanakajir yang sudah tergeser dari keramaian lalu-lintas dan menjadi semakin sepi itu, kelak akan menjadi dukuh yang semakin tertinggal. Allahu a’lam.

— Ringkasan Part-4—

            Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling. Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat: seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.  Kadinah, dengan meminjam raga cucunya yang bernama Sumyati, menjelaskan secara panjang lebar mengenai tradisi obrog yang sudah mati.

/5/

            Kalian seharusnya mendengar baik-baik cerita ini.  Apa yang dilakukan oleh orang-orang tua dan para seniman ketika seluruh desa terkena bencana pageblug?  Orang-orang pada zaman kini hanya berkutat pada bagaimana menolong orang-orang yang terkena bencana, tanpa banyak berpikir untuk menyelesaikan penyebab semua bencana.  Atau mungkin telah melupakan — kalau tidak ingin dikatakan mengabaikan— penyebab semua bencana.  Berokan adalah cara membasmi semua bencana sampai ke akar-akarnya.

            Biarkanlah monolog ini bertambah panjang, karena reang berpikir kalian harus memahaminya.  Setidaknya, reang mengkhawatirkan kalau hidup kalian sekarang telah kehilangan akarnya, ketika kalian berkeliaran mengembara ke mana-mana, ke berbagai penjuru dunia.  Padahal kalian tahu, kalau dukuh Wanakajir ini adalah pusat.  Ia tempat kalian lahir, dan karena itu kalian pasti merindukannya, betapapun jauhnya negara jelajah kalian.  Kelak dukuh ini akan dengan ikhlas menerima kembali kalian, untuk pulang dan berpulang, dalam keadaan hidup atau mati, betapapun kalian membencinya.  Wanakajir adalah pusat hidup dan mati kalian.

            Namun, seperti biasa, sebelum reang bercerita, buatlah suguhan baru: segelas tehbruk dan sebungkus udud kesukaan.  Kalian tak perlu mengusir reang dari raga yang pinjaman ini, karena reang tahu kapan reang akan keluar.  Reang belum bisa tenang, karena masih banyak yang harus reang sampaikan

            Mengenai berokan ini, ada penjelasan yang agak panjang yang harus kalian dengarkan.  Kesenian berokan sudah mati, tak ada lagi pewaris maupun pendukungnya.  Perhatikan kalau kata berokan dekat sekali dengan kata “barokahan”, yang menunjuk pada arti pemberkahan.  Kata itu sejajar dan semakna dengan kata slametan.  Berkah itu datangnya dari langit, yakni dari Tuhan, meskipun jalannya bisa melalui siapa saja dan bisa melalui ikhtiar apa saja.  Demikianlah, berokan adalah ikhtiar yang diharapkan dapat mendatangkan berkah langit untuk menghalau keberlanjutan bencana ketika pageblug datang, ketika wabah tiba, atau ketika penyakit merajalela.  Menghalau sampai ke akar-akarnya.

            Kata be-rok itu sendiri dekat dengan kata “ba-rong”, yang di antara keduanya memiliki wujud dan fungsi serupa, sekali lagi, yakni makhluk mitologis penghalau bencana.  Kepala berokan berupa topeng kepala binatang, badan berokan berupa sarung yang terbuat dari karung goni, dan ekor berokan berupa tongkat dengan diameter genggaman pemain sepanjang kurang lebih satu meter.  Berbeda dengan barong yang memiliki variasi topeng, kebanyakan topeng berokan menggambarkan wajah buaya dengan kemoncongan mulut yang tidak runcing.  Bagian mulut topeng dapat membuka dan menutup apabila digerak-gerakan oleh pemainnya dari bagian dalam sarung karung.  Seolah-olah geraham topeng hidup.  Bahkan bunyi plak-plok dapat terdengar keras apabila geraham topeng berokan itu dimainkan.  Sementara yang menjadi badannya adalah karung goni yang berisi seorang pemain di dalamnya.  Jika barong pakaiannya mewah, sementara berokan sangat sederhana.  Jika barong dimainkan oleh dua orang, berokan hanya dimainkan oleh seorang. 

            Ekor barong dan berokan juga memiliki perbedaan.  Ekor barong semewah badannya, sementara ekor berokan sesederhana badan berokan.  Ekor berokan terbuat dari tongkat, dimainkan dengan cara memegang bagian ujung dalam tongkat.  Memang, untuk dapat “menghidupkan” berokan, kedua tangan pemain berokan masing-masing memegang topeng dan memegang ekor berokan. 

            Yang berbeda hanya pada beberapa hal saja.  Mulut pemain berokan mengulum sompretan, yakni pita suara tambahan penghasil aneka suara.  Sompretan ini digunakan oleh pemain berokan untuk dialog dengan “pawang” berokan atau untuk menyanyi apabila diminta.  Yang lainnya adalah berokan tidak selincah barong, karena hanya dimainkan oleh seorang pemain. 

Demikianlah, secara umum berokan sama seperti barong, atau lebih tepatnya berokan merupakan bentuk penyederhanaan barong.  Dalam segi fungsi, berokan bahkan sama persis seperti barong, yakni merupakan cara seniman menghalau bencana.

            Ya, berokan adalah cara seniman menghalau bencana.

            Meskipun kalian agak sukar menerima penjelasan ini, tetapi satu hal harus kalian ketahui bahwa segala sesuatu itu memiliki logikanya sendiri.  Apa kalian masih ingat, bagaimana cara mencari anak-anak yang hilang karena diculik oleh wewe-gombel?  Satu-satunya cara menemukan anak yang hilang karena diculik wewe-gombel adalah dengan memperdengarkan semua bunyi-bunyian yang ada selama pencarian, karena suara bebunyian itu mengagetkan semua makhluk. Tak terkecuali dengan  wewe-gombel.  Wewe-gombel yang mendengar setidaknya akan kaget, kalau bukan terkesima mendengar bebunyian dan kemudian menari mengikuti irama bebunyian yang kita perdengarkan.  Akibatnya adalah anak yang dikempit di ketiak wewe gombel, akan terlepas.  Dengan cara ini, anak yang hilang karena diculik wewe-gombel akan mudah ditemukan.  Itulah logikanya.

            Sama seperti seni barong di Bali atau di Cina, demikian halnya dengan berokan di dukuh ini yang dipercaya dapat menghalau bencana pageblug yang datang.  Ia memiliki logika sendiri.

            Dukuh Wanakajir ini tidak memiliki kelompok kesenian berokan, karena pertunjukan kesenian berokan selalu dilakukan dalam bentuk bebarang dan bukan dalam bentuk tanggapan.  Istilah resminya sih bukan bebarang tetapi narayuda, namun artinya sama saja, mengamen.  Setidaknya, sangat jarang orang-orang nanggap berokan untuk meruwat atau menghalau bencana.  Paling banter, orang meminta kelompok berokan yang sedang bebarang dan kebetulan lewat ke dukuh ini untuk mempergelarkan aksi keseniannya di depan pelataran rumah orang yang meminta.  Setidaknya, begitulah yang terjadi di dukuh ini pada zaman dahulu.

            Apabila ada kelompok kesenian berokan bebarang ke dukuh Wanakajir ini, yang terjadi adalah peristiwa budaya seperti berikut ini.  Pada sebuah pelataran rumah, semua instrumen diturunkan dari pikulan atau dari sepeda.  Pertunjukan diawali dengan menabuh instrumen tersebut, mengundang tua-muda dan anak-anak seluruh dukuh untuk hadir.  Instrumen musik yang dimainkan sangat sederhana: gendang sunda, kecrek, terbang, kempul dan gong kecil. Meskipun sederhana dan bahkan terkesan monoton, tetapi nuansa musik yang dihasilkannya sanggup menghidupkan pertunjukan secara dinamis.  Irama gendang memimpin pertunjukan, dan suara kecrek membangkitkan gairah, mengubah suasana menjadi hingar-bingar.  Paduan dari keduanya, menghasilkan pertunjukan yang membangkitkan gairah.  Dengan ditingkah suara terbang, kempul dan gong kecil, jadilah sebuah orkestra sederhana yang sumringah: penuh energik dan gairah.  Khas gaya pesisiran.

            Selanjutnya, sesudah penonton hadir memenuhi kalangan, seorang pemain masuk ke dalam tubuh berokan.  Kedua tangannya masing-masing memegang topeng dan ekor berokan.  Sementara mulutnya mengulum sompretan, pita suara untuk menghasilkan bahasa berokan. Jika seorang “pawang” bertanya pada berokan, maka berokan menjawab dengan suara yang dihasilkan oleh tiupan sompretan tersebut.  Begitu pula jika “pawang” meminta berokan bernyanyi, ia akan menyanyi dengan suara sompretan.

            Dinamika permainan yang menghidupkan pertunjukan adalah akibat dialog dan interaksi antara pemain yang berada di dalam tubuh berokan dengan “pawang” yang ada di luar berokan.  Segala bentuk kelucuan gerak dan bahasa, merupakan hasil dari interaksi antara pemain dan “pawang”.  Bila berokan berlagak malas, tidak bergairah, maka “pawang” akan memainkan peragaan memompa.  Seolah-olah memompa balon udara dengan pompa tangan.  Ekor berokan dipegang dan dijadikan peraga pompa tangan.  Setelah dipompa, berokan kembali bergairah.  Bila berokan sudah bergairah, maka diminta memperagakan apa saja, pasti dia mau.  Ditanya apa saja, pasti menjawab.  Tentu saja dengan bahasa berokan melalui pita suara sompretan-nya.  Atau kadang-kadang dengan bunyi plak-plok yang dihasilkan oleh gerakan mulut berokan.

            Tetapi jangan sekali-sekali membuat berokan tersinggung.  Sekali tersinggung, berokan akan marah.  Dia bangkit dan mengejar anak-anak ataupun siapa saja.  Dia masuk ke dalam rumah siapa saja yang kebetulan pintunya tidak tertutup. Atau ia mengejar siapapun sampai ke dalam rumah.  Uniknya, adegan ini justru merupakan puncak permainan berokan.  Berokan memang dibuat tersinggung, agar marah dan kemudian berkeliaran ke mana-mana.

            Irama musik meninggi, dalam puncak kesumringahan gairah dan puncak gairah kesumringahan.  Mengiringi adegan berokan yang juga berada pada puncak ketersinggungan.   

            Begitulah berokan yang kini tinggal menjadi cerita.  Menceritakan berokan memang menceritakan keprihatinan perkembangan seni rakyat jelata.  Ketika tumbuh besar ia hidup tanpa pengakuan, dan ketika mati tanpa kuburan tanpa nisan.  Keberadaannya kini telah terdesak oleh topeng monyet dan badut, oleh para pengamen waria dan anak-anak, atau bahkan oleh  jaran lumping si kuda kepang.  Ia telah dilupakan oleh pendukungnya.  Dilupakan secara sempurna.

(bersambung)***

— Ringkasan Part-3—

Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling. Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat: seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.  Kadinah, dengan meminjam raga cucunya yang bernama Sumyati, menjelaskan secara panjang lebar mengenai tradisi genjring yang sudah mati.

/4/

Kalian seharusnya mendengar baik-baik cerita ini.  Ini adalah cerita keprihatinan, tentang matinya tradisi obrog di dukuh kita.  Tapi sebelum saya bercerita, jangan lupa buatkan tehbruk yang buket.  Seperti biasa, satu bungkus Teh Upet seduhkan dalam gelas besar, bersama dua gumpal gula batu yang putih mengkristal.  Selain itu, sediakan rokok kretek kesukaanku, Gudang Garam Merah atau cap Djaja. Tapi jika tak ada Gudang Garam Merah atau cap Djaja, rokok Minakdjinggo juga tak apa-apa.  Lalu, jangan lupa, seperti biasa, sebelum aku bercerita, taruhlah semua suguhan itu di bawah meja.

Mengenai obrog ini, ada penjelasan yang agak panjang yang harus kalian ketahui.  Obrog merupakan tradisi penyambutan datangnya bulan puasa yang mulia.  Nabi kita, Nabi Muhammad (sholallaahu ‘alaihi wa salam), memerintahkan kita untuk menyambut bulan puasa dengan gembira.  Itu kata para ulama yang selalu kita turuti semua fatwa-fatwanya.  Romadhon dan ibadah puasa di dalamnya memang perlu disambut dengan gembira, karena umur kita telah disampaikan ke saat-saat yang sangat luar biasa indahnya.  Maka, barang siapa yang tidak menyambut Romadhon dan ibadah puasa ini dengan gembira, pasti dia akan menderita.  Tersiksa menahan lapar seharian dengan cara sendirian.  Bahkan bagi orang-orang di dukuh ini, siksaan itu akan lebih tinggi lagi, karena dapat menyebabkan mulut kecut lantaran menahan rokok sepanjang hari.

Maka, dulu orang-orang di seluruh penjuru tanah Jawa ini akan menabuh bedug masjid manakala senja pertama Romadhon tiba, untuk menandai masuknya ibadah puasa.  Irama bedug dikumandangkan dengan irama yang berbeda dari irama bedug pada hari-hari biasa.  Bedug dipukul bertalu-talu, dilakukan secara bergantian bagi siapa saja yang ingin melakukannya.  Irama yang dikumandangkannya adalah irama suka-cita, persis seperti irama pukulan bedug di hari raya.  Orang-orang di dukuh ini menyebutnya dengan istilah dug-der, suara bedug penanda datangnya puasa atau penanda datangnya hari raya.

Malam-malam Romadhon ditandai dengan tarawih dan sahur.  Tarawih dilakukan di awal malam, sedangkan sahur dikerjakan di akhir malam.  Di antara keduanya terentang ruang waktu, yang setiap orang-orang akan mengisinya dengan kegiatan tertentu.  Kami para seniman mengisinya dengan pertunjukan-pertunjukan.  Pertunjukan-pertunjukan ini dijadikan kebiasaan, yang lama-kelamaan kebiasaan yang dilestarikan ini akhirnya berkembang menjadi tradisi.  Inilah yang disebut dengan tradisi obrog.  Jadi obrog adalah cara seniman menyambut malam-malam Romadhon dengan penuh kegembiraan.  Cara para seniman mengajak semua orang untuk menyambut malam-malam Romadhon dengan penuh kegembiraan.

Tradisi obrog dilakukan dengan cara bebarang, yakni pindah dari dukuh ke dukuh mengusung semua barang-barang instrumen kesenian.  Ada yang mengusungnya dengan sepeda, ada yang mengusungnya dengan gotrok yakni dengan geladak beroda tetapi tidak bermesin.  Pada setiap dukuh yang disinggahinya, para kelompok pekerja seni ini mempergelarkan pertunjukan seninya dalam sesi pertujukan singkat.  Ada pertujukan sintren, ada pertujukan genjring, ada pertujukan topeng, ada pertujukan reog, dan macam-macam jenis pertunjukan lainnya.  Bahkan banyak juga obrog yang bebarang dengan hanya memutarkan kaset melalui loudspeaker saja.  Seperti obrog yang lain, ini juga melakukannya dengan cara singgah dan pindah.

Maka, pada malam-malam Romadhon, selain tajug dan masjid diramaikan oleh orang-orang yang melakukan tadarus, jalanan juga diramaikan oleh banyak obrog.  Seni reog mungkin merupakan obrog yang paling banyak ditonton oleh orang-orang.  Berikutnya adalah seni genjring.  Tetapi mereka selalu mempertunjukkannya dalam sesi pertunjukan singkat, satu hingga dua jam ketika singgah dan selanjutnya mereka pindah.

Reog dari dukuh ini dulu pernah berkembang.  Kelompok Suta, merupakan kelompok reog yang pernah ada.  Tetapi seperti umumnya reog-reog yang ada di sekitar dukuh ini, kesenian reog benar-benar merupakan kelompok hiburan, karena banyak kelompok seni reog dikembangkan bukan untuk mencari bayaran.   Yang menjadi panggung bagi pertunjukan reog hanyalah lapangan.  Panggung itu tidak beralas seperti kalangan yang dipakai untuk pertunjukan sintren.   Dalam sebuah pertunjukan reog, biasanya sebuah oncor dinyalakan di tengah lapangan, untuk menandai bagian tengah panggung.  Oncor adalah obor penerang tradisional yang terbuat dari bambu, dengan bagian lubangnya diisi minyak dan sumbu.   Sumbu yang terletak pada bagian mulut oncor inilah yang kemudian disulut dan dijadikan sumber penerangan.  Agar dapat menerangi pada bagian yang cukup luas, oncor diberi penopang, berupa bambu berkaki tiga.  Apabila api oncor sudah dinyalakan dan instrumen reog sudah diperdengarkan, itu pertanda sebuah panggilan bagi penonton tengah dilakukan.  Pertunjukan sesungguhnya belum benar-benar mulai, karena sebuah pertunjukan membutuhkan kehadiran penonton untuk mengapresiasi.

Tiga sampai lima orang pemain reog berputar mengelilingi oncor, masing-masing memegang gendang dalam berbagai ukuran.  Pemain reog merupakan seniman penghibur yang komplit: selain masing-masing harus dapat memainkan instrumen reog, masing-masing juga harus dapat menyanyi, harus dapat berkisah, dan sekaligus harus dapat melawak.  Memang tidak ada pakem tertentu dalam memainkannya, tetapi yang paling sering adalah memulai pertunjukan dengan menyanyi sambil mengitari kalangan.  Satu-satunya pakem yang pasti adalah adanya seorang kepala dan ada seorang buntut.  Seorang kepala dalam pertunjukan reog berada di bagian depan, merupakan vokalis utama dalam menyanyi, dan berperan sebagai pengumpan joke dalam melawak.  Sementara seorang buntut adalah orang yang berada pada bagian akhir barisan, dan selalu dijadikan objek-penderita selama pertunjukan.  Adapun isi kisah dan lawakan, sering merupakan sindiran atau kritik sosial.  Reog adalah cara masyarakat menyalurkan rasa gundah gulananya..

Dalam semalam, para pekerja seni ini bebarang ke beberapa dukuh.  Mereka menghibur semua orang, untuk memastikan tidak ada orang yang sedih atau gundah melewati hari-hari Romadhon-nya.  Obrog adalah konsep mengamen pada malam hari, tetapi tidak dengan cara meminta imbalan, karena obrog adalah cara seniman menghibur semua orang.

Menjelang malam-malam terakhir Romadhon, obrog makin jarang ditemukan, karena dapat mengganggu kekhusyuan i’tikaf pada malam-malam ganjil Romadhon.  Orang dukuh ini sering menyebutnya sebagai malam likuran, karena tanggal-tanggal pada sepuluh hari terakhir disebut dengan selikur, rolikur, telulikur, padlikur, selawe, nemlikur, pitulikur, wolulikur, sangalikur dan telung puluh.  Meskipun begitu, beberapa obrog loudspeaker tidak memilih absen atau memperjarang bebarang-nya.  Suara cerita wayang kulit dari dalang-dalang pavorit bahkan makin sering diminta pada malam-malam likuran di dukuh ini.   Dalang Jublag dari Gegesik merupakan salah satu dalang kondang, tetapi tidak dapat disangkal kalau kaset-kaset yang banyak dimiliki orang adalah kaset-kaset dari Dalang Mansyur.  Tentang wayang kulit ini saya ingin bercerita dalam kesempatan tersendiri.

Selain wayang kulit, suara cerita yang sering diperdengarkan oleh obrog loudspeaker adalah cerita tarling.  Beberapa group tarling cukup populer, seperti Cahaya Muda piminan AT Ma’mun dan Dariyah, group Jaya Lelana piminan Jayana, group Putra Sangkala pimpinan Abdul Ajib, group Nada Budaya pimpinan Narto, group Candra Lelana pimpinan Maman, dan group Darma Muda pimpinan Yoyo Suwaryo.  Mereka bukan hanya banyak ditanggap, tetapi juga banyak melakukan rekaman cerita dalam bentuk pita kaset.  Tentang kesenian tarling pun saya ingin bercerita dalam kesempatan tersendiri, agar kalian tahu bahwa Cirebon merupakan gudang kesenian yang luar biasa.

Tradisi obrog baru usai ketika Idul Fitri dirayakan oleh orang ramai.  Sambil bersilaturahmi, bermaaf-maafan di hari Idul Fitri, kelompok-kelompok kesenian kembali mengelilingi daerah-daerah jelajah.  Kali ini, kelompok-kelompok kesenian itu mementaskan pertunjukannya dengan cara menjelajah sambil meminta sedekah.  Hitung-hitung sekedar balas jasa.  Jadi obrog dalam batas-batas pengertian ini adalah cara para seniman menghidupi diri, agar kreasi seni tidak mati.

Menceritakan tradisi obrog dewasa ini adalah menceritakan keprihatinan perkembangan seni tradisi.  Ia terdesak oleh siaran radio dan televisi yang merebut pemirsa hingga pagi hari.  Kalaupun hingga dewasa ini belum dikatakan mati, tetapi tradisi obrog tidak lagi menjadi sarana ekspresi seni tradisi.  Akhir-akhir ini, tradisi obrog hanya diramaikan oleh pertunjukan jenis-jenis kesenian pembangkit berahi.  Padahal pertunjukan jenis-jenis kesenian ini jelas-jelas menodai bulan Romadhon yang suci.

Sesungguhnya, melalui tradisi obrog ini, kami para seniman ingin tetap berekspresi meskipun berada di bulan suci.  Kami para seniman ingin tetap berkomunikasi dan bersilaturahmi.  Kami para seniman mengharapkan agar seni tradisi tetap memiliki tempat di hati.  Dan akhirnya, kami para seniman meminta pengertian agar seni tradisi tidak mati.

(bersambung)***

— Ringkasan Part-2—

Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling. Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat: seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.  Kadinah, dengan meminjam raga cucunya yang bernama Sumyati, menjelaskan secara panjang lebar mengenai kesenian sintren yang sudah mati.

/3/

Jika kalian masih ingin mendengar cerita, beri aku suguhan baru.  Ganti tehbruk yang sudah tidak panas lagi itu dengan yang baru.  Gunakan gula batu yang putih mengkristal, dan padukan dengan Teh Upet yang paling wangi.  Pilihkan teh terbaik, yakni yang paling menyengat mengandung aroma melati.  Lalu, jangan lupa, sebelum aku bercerita, suguhi aku Gudang Garam Merah dan taruhlah di bawah meja.  Tapi jika tak ada Gudang Garam Merah, merek cap Djaja juga tak apa-apa.

Adapun genjring, ini merupakan seni pertunjukan akrobatik yang dipadukan dengan seni tari, seni musik rebana, seni suara, dan debus.  Dulu, waktu muda, aku seorang pemain genjring. Bahkan kemudian menjadi pemilik grup genjring.  Belakangan, Rama, anak tiriku yang menjadi bapak dari Sumyati yang raganya kupinjam sekarang ini, adalah orang yang kuminta untuk meneruskan tradisi genjring di dukuh ini.

Mudah diduga mengapa pentas ini diberi nama genjring, yakni karena instrumen utamanya adalah beragam jenis rebana yang masing-masing memiliki telinga untuk tempat kecrek yang dapat menghasilkan bunyi jring-jring dengan sendirinya manakala bagian kulit rebana dimainkan.  Karena itu pula, rebana bertelinga disebut juga genjring.

Instrumen yang diperlukan dalam grup kesenian ini cukup aneka jenis genjring dan bedug saja.  Tiap-tiap jenis genjring, yang dibedakan berdasar garis tengah lingkaran genjring, minimal terdiri dari tiga, agar menghasilkan suara yang rampak dan mengemaMakin banyak instrumen yang dipakai akan makin menggema suara yang dihasilkannya, sehingga tidak diperlukan lagi bantuan pengeras suara.  Begitu juga dengan bedug, sekalipun cukup satu atau dua saja sudah memadai untuk suatu pertunjukan seni genjring, tetapi akan lebih megah apabila kesenian genjring ini menampilkan beberapa bedug.  Jika genjring menghasilkan suara-suara yang bernada tinggi, maka bedug adalah instrumen yang menghasilkan suara bernada rendah.

Aku rindu mendengar suara orkestra genjring.  Bing, pang.  Bing, pang. Dug, udug, udug. Begitu terus makin lama makin rampak, karena ketika intro baru satu rebana yang dimainkan oleh nayaga, tetapi kemudian segera ditingkah oleh penabuh bedug dan pemain rebana lainnya.  Pak-apak-apak, bing-ibing-ibing, Pak-apak-apak, bing-ibing-ibing. Pak-pak.  Bing-bing. Pak! Dug-dug, dug-dug, dug… Begitu seterusnya, dengan ritmik yang makin lama makin cepat, sehingga sekalipun belum ada seorang pun penari berada di atas panggung, terasakan seolah-olah musik itu sudah menjadi pengiring bagi gerakan-gerakan sejenis tari saman secara rampak.  Suara-suara yang dihasilkan oleh instrumen genjring dan bedug itu terasa hingga ke jantung-hati.

Mengingat seni genjring, aku jadi teringat pada beberapa nama.  Ada Deni, ada Dapiyah, ada Suta, dan ada yang lainnya.  Mereka adalah penabuh-penabuh genjring dari dukuh ini.

Setelah satu babak instrumen genjring selesai dimainkan, pertanda babak baru yang menyusulnya akan segera dipentaskan.  Beberapa penari, terdiri dari perempuan-perempuan cantik naik ke atas panggung, lalu kemudian kadang-kadang –tetapi tidak selalu– disusul oleh para penari lelaki.  Formasi penari laki-laki, jika ada, selalu ditempatkan di belakang penari perempuan.  Mereka membentuk formasi tarian sejenis tari saman yang berkembang di tanah Aceh.  Babak ini menandai tampilnya perpaduan antara musik, tari dan syair lagu.

Babak ini dibuka dengan syair intro yang dibawakan oleh beberapa orang.

Annakuun thabi ash-sholaah, annakuun thabi ash-sholaah…

            Thabi asya …dan segera disusul suara instrumen: bing pang, bing pang… dug, udug, udug! ….

            Dan mulailah gerakan gemulai para penari beraksi di atas panggung.  Makin lama, gerakannya makin cepat, tetapi dalam keadaan tetap rampak. Demikian juga dengan iringan musik dan syair lagu, makin lama makin cepat, meskipun tidak pernah berkurang sedikitpun nuansa estetisnya.       Pak-apak-apak, bing-ibing-ibing, Pak-apak-apak, bing-ibing-ibing. Pak-pak.  Bing-bing. Dug-dug, dug-dug, dug…

Tahukah kalian, kalau pemain dan penonton kesenian genjring ini menyukai penggalan syair lagu berikut ini:

Kuntul mulai jalan, kuntul mulai jalan

            Jalan Bandung ke Surabaya …

            Singgah di Pekalongan, singgah di Pekalongan

            ai…Kuntul sudah bertiga…

Ya, tari dan syair lagu itu disebut Kuntulan.  Isi syair lagu itu memang bercerita tentang migrasi burung-burung kuntul.  Migrasi burung dari arah barat ke arah timur, yang makin lama makin banyak, karena diikuti oleh burung-burung endemik lainnya.  Burung-burung yang disebut dalam lagu itu sekarang sudah menghilang.  Masih kuingat dengan jelas aneka kuntul di sawah.  Warnanya putih-putih, laksana kapas-kapas yang bertebaran di sawah-sawah, menunggu anak-anak katak dan ikan yang siap dimangsa.  Atau bertengger di dahan-dahan pohon randu alas, untuk beristirahat, sebelum mereka saatnya terbang kembali untuk bermigrasi.  Selain burung kuntul, ada jenis burung blekok dan burung bango. Mereka merupakan jenis-jenis burung yang masih sekeluarga: berbulu putih, berkaki panjang, berparuh panjang, dan bersayap lebar. Lahan-lahan sawah di sekitar dukuh ini merupakan ruang hidup yang nyaman bagi mereka.  Sedangkan pohon-pohon dander dan kesambi di pekuburan Wanakajir, merupakan habitat yang yang aman bagi anak-anak burung, sebelum mereka bisa terbang.  Mereka menempati dahan-dahan dander yang tinggi, sehingga tak terjangkau oleh tangan-tangan jahil manusia.

Dukuh Wanakajir memang menyediakan ruang hidup bagi burung-burung.  Burung endemik maupun burung migran.

Itulah tari dan lagu Kuntulan dalam seni genjring.

Menari secara rampak dengan diiringi orkestra genjring dan syair-syair lagu, membutuhkan harmonisasi yang luar biasa dari seluruh pemainnya.  Pentas genjring memang mampu menepis kesombongan-kesombongan manusia merasa diri lebih mumpuni.  Pentas genjring membutuhkan kebersamaan dan keharmonisan, bukan hanya dengan sesama penari, tetapi kebersamaan dan keharmonisan dengan penabuh dan penyanyi.  Bahkan seorang penari membutuhkan keharmonisan dengan syair lagu yang dinyanyikan.

Jangan tanyakan padaku mengapa aku menyebut kesenian genjring ini mirip dengan tari saman dari Aceh.  Semasa hidupku, aku tidak pernah menelusurinya.  Lagi pula itu bukan kewajiban seorang seniman.  Itu pekerjaan para akademisi.  Kerja kami adalah berkreasi, berkreasi, dan berkreasi untuk mengabdi melalui seni.  Ya, meski kami sadar bahwa jalan seni bukan jalan kehidupan, tetapi dunia akan sepi jika tak ada kesenian.  Biarkan kami, meski tiap hari cuma makan bubur atau makan srabi, yang penting dapat mengabdi melalui seni.

Babak ketiga dari pementasan kesenian genjring adalah pentas akrobatik.  Pentas ini mula-mula diperagakan oleh anak-anak: kayang, melompat dari tangga bambu, atau sekedar membentuk formasi sesama pemain.  Pentas ini memperlihatkan kelenturan gerakan tubuh, keseimbangan formasi, dan ketrampilan diri.  Tahap yang berikutnya diperagakan oleh pamain-pemain remaja.  Meskipun terkesan masih sama, tetapi sesungguhnya mereka memperagakan ketangkasan-ketangkasan bermain akrobat tingkat lanjut.  Beragam jenis tangga bambu yang dicat berwarna-warni dijadikan media akrobat yang memperlihatkan tingkat ketangkasan bermain.  Jika tidak menggunakan media tangga-tangga bambu, biasanya mereka bermain keseimbangan, menaiki sepeda di atas tali yang direntangkan di antara dua tangga bambu.  Kadang juga hanya memperagakan akrobatik berjalan di atas tali.

Puncak dari semuanya adalah babak keempat yang merupakan babak penutup.  Babak ini menampilkan beragam peragaan: debus dan sulap yang diselangselingi dengan peragaan bodor.  Peragaan ini hanya dilakukan oleh orang-orang terpilih.  Memakan bara api, menusuk pipi dengan kawat, atau makan ayam yang masih hidup, adalah jenis-jenis debus yang biasa.  Kami kerap memperagakan debus penguburan manusia, untuk membuktikan bahwa kami bukan grup kesenian genjring biasa.  Siapapun yang bersedia menjadi peraga, untuk dikubur di dalam tanah selama setengah sampai satu jam, buat kami tidak masalah.  Di antara masa tunggu itu, permainan sulap dipentaskan di atas panggung.  Dukuh kami memiliki seorang pesulap handal, yang bukan saja bermain dalam grup kami, tetapi juga sering dipesan oleh grup lain.  Di antara kengerian debus dan decak kagum sulap ini pentas bodor disuguhkan.  Bodor dengan berlagak seperti pemain sulap atau pawang debus, memperagakan hal-hal konyol.  Ia memang berfungsi mencairkan.

Melalui seni genjring, kami menghibur manusia dari segala umur. Melalui seni genjring pula, kengerian hidup diciptakan bukan untuk ditakuti tetapi untuk dijalani.

(bersambung)***

— Ringkasan Part-1—

Kadinah adalah ikon kesenian di dukuh Wanakajir.  Bersama dengan penguburan jasadnya, ikut terkubur pula sejumlah seni tradisi yang ada: sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling.  Sementara juga ada kesenian yang sedang mengalami kondisi sekarat seperti seni sandiwara, topeng cerbon dan wayang kulit.

/2/

Beri aku suguhan tehbruk yang kental dan sebungkus rokok kretek cap Gudang Garam Merah.  Lalu biarkan aku akan masuk ke dalam raga cucuku, Sumyati, meminjam tubuhnya, untuk menceritakan semua ini.  Agar kalian tahu, kalau leluhur kalian adalah insan-insan ilahi yang taat mewarisi tradisi seni.  Dan apabila cucuku, Sumyati, siuman kembali, atau tehbruk telah terasa hambar kau cicipi, itu pertanda aku telah pergi.

Ketahuilah.  Dulu, di pelataran depan rumahku, pada tiap-tiap malam purnama tiba, pagelaran seni sintren selalu dipentaskan dan tak pernah terlewatkan.  Sesungguhnya, lebih dari yang kalian kira, umur seni sintren lebih tua dari umur generasi para orang tua kita.  Ia lahir dari rahim masyarakat agraris, yang masih terlihat nyata dari isi mantra-mantra yang dilagukannya.  Ia adalah bentuk kesenian rakyat jelata, yang terwariskan dengan jelas dari instrumen-instrumen musiknya.

Ketika aku harus menjaga keberadaan seni sandiwara, seni sintren kutitipkan pada suami-istri Kampeng dan Ateng untuk melestarikannya. Pesanku ketika itu: peliharalah agar kampung kita tetap memiliki daya tarik bagi kampung-kampung tetangga. Meskipun aku tak lagi merawatnya, aku tak pernah lupa pada setiap tahapannya.  Bahkan aku sangat tahu, tentang filosofi apa yang ada di baliknya.

Setiap karya seni bagi pelakunya adalah puncak pengabdian diri kepada ilahi.  Ibarat petani yang setia melakukan sedekah bumi, kami para pekerja seni melakukan dzikir-dzikir melalui karya seni. Seumpama kalangan ulama yang dapat melahirkan fatwa, kami para pekerja seni melahirkan ekspresi dari jiwa-jiwa yang tak pernah mati.  Dan, laksana para pahlawan yang selalu bersedia untuk berkorban, kami para pekerja seni bersedia menjadi penjaga tradisi.  Begitulah, sintren adalah dzikir kami tentang keberadaan Dewa Indra di swargaloka dan para bidadari yang mengitarinya.  Apabila kami memohon para bidadari untuk turun ke alam dunia, merasuk ke dalam raga bocah, dan menghibur kami semua, itu pertanda kami selalu mengingat-Nya.  Begitulah, sintren adalah ekspresi jiwa-jiwa kami para kaum tani, mengabadikan bunga-bunga yang bermekaran menjadi syair-syair abadi.  Begitulah, sintren adalah lambang kesediaan berkorban dan sekaligus simbol kesediaan menjadi penjaga tradisi, ketika kami menggerakkan dan sekaligus digerakkan oleh mantra-mantra yang kami lantunkan.  Begitulah, pada kesederhanaannya, sintren adalah itu semua.

Tak ada museum yang merawat instrumen-instrumen musiknya.  Tapi jika kalian masih memiliki gendul-gendul yang tak lagi dipakai, kendi yang keberadaannya sudah tergeser oleh kulkas, buyung yang fungsinya sudah diganti oleh pipa-pipa dan selang-selang air, kumpulkan saja.  Kita harus menyiapkan museum kesenian sintren di dukuh ini, sebelum diselamatkan oleh orang-orang di negeri jiran.  Gendul dapat menghasilkan suara merdu ketika kau tiup bagian bibirnya.  Lubangi kendi pada bagian ujung perutnya, niscaya suara halus merdu akan bergema.  Apabila ditiup secara ritmik, suara yang dihasilkan gendul merupakan suara imitasi dari instrumen gong kecil.  Sedangkan suara yang dihasilkan oleh kendi dapat menyerupai suara instrumen gong besar.  Sementara, suara imitasi kendang dapat dihasilkan oleh instrumen buyung.  Caranya cukup sederhana, cukup dengan bantuan ilir, yakni kipas dari kulit bambu, yang dimainkan dengan cara mengibas-ngibaskan ke bagian mulut buyung.  Itulah instrumen utamanya.

Agar lebih meriah, potonglah beberapa ruas bambu, masing-masing dibentuk menyerupai gelas-gelas dengan berbagai ukuran.  Bila tiap-tiap ruas bambu itu dihentak-hentakkan ke bagian yang keras, atau dipukul-pukul laksana kentongan, maka akan menghasilkan suara yang meriah.  Bila suara ini ditingkah dengan kemeriahan kecrekan, niscaya pertunjukkan akan menunjukkan kedinamisannya.

Mungkin kalian bertanya, mengapa sesederhana itu instrumen-instrumen pengiringnya?  Ketahuilah kalau dalam seni sintren, instrumen-instrumen musik pengiring itu bukanlah hal yang utama.  Yang utama dalam pertunjukkan seni sintren sesungguhnya ada dua.  Pertama adalah para sinden, merekalah yang secara ritmis monoton mengalunkan mantera-mantera, menjadi leader bagi keseluruhan pertunjukan.  Keseluruhan bunyi musik, pada hakekatnya hanyalah sekedar pengiring alunan mantra-mantra yang dilagukan secara monoton untuk mempermudah terbentuknya kondisi trance bagi penari sintren.  Kedua adalah dalang, orang yang ada di balik semua pertunjukan, yang memungsikan diri sebagai sutradara, sebagai dukun, dan sekaligus sebagai pawang.

Subjek dan sekaligus objek dari semua pertunjukkan seni sintren adalah penari sintren itu sendiri.  Japa mantra yang merupakan jampi-jampi dari seorang dalang, ditiupkan pada buhul sang penari sebelum sang penari dicemplungkan ke kalangan. Lagu-lagu mantra yang dialunkan oleh para sinden, dapat menggerakkan subjek sang penari.  Dari langit, para bidadari yang perawan abadi meski selalu disetubuhi oleh para dewa yang senantiasa berahi, turun ke bumi dengan meminjam raga sang penari sebagai objek.   Itulah kenapa penari sintren harus seorang perawan.  Pada malam bulan purnama itu para bidadari mendatangi bumi, memasuki jiwa-jiwa perempuan perawan yang belum pernah datang bulan.  Itulah mengapa leluhur dukuh Wanakajir mempersyaratkan seorang penari sintren harus perawan yang belum pernah datang bulan. Sang penari sintren memang subjek sekaligus objek dalam pertunjukan.

Peran subjek dan objek pertunjukkan ini makin terasakan, manakala kita mencoba menikmati lirik-lirik lagu yang sekaligus merupakan mantra, yang dilantunkan oleh para pesinden dalam posisi melingkar, mengitari kurungan ayam yang didalamnya merupakan tempat bersemayamnya para bidadari yang menyatu dengan raga penari.  Mereka, para pesinden itu, sambil mengitarkan dupa-dupa kemenyan, melantunkan lirik-lirik lagu mantra berikut ini:

Turun-turun sintrén, sintréné widadari

Nemu kembang yun ayunan, nemu kembang yun ayunan

Kembangé si Jaya Indra, widadari temuruna

(Turunlah ke kalangan, wahai penari sintren, wahai objek sang bidadari

Kami mendapat karangan bunga, milik Batara Indra

Wahai bidadari turunlah menyatu dalam raga)

Lirik-lirik lagu itu dinyanyikan berulang-ulang secara monoton, dengan iringan musik yang juga monoton, sehingga memudahkan sang penari memasuki kondisi trance. Ini merupakan mantera wajib dalam pertunjukan sintren.  Dan lihatlah, apabila bidadari sudah turun ke dalam raga, keajaiban pun terjadi pada diri seorang penari sintren.  Sebelum dimasukkan ke dalam kurungan ayam, ia hanya berpakaian lusuh tanpa tata rias.  Sementara seluruh badannya dalam kondisi terikat sempurna, dalam ikatan yang dikunci dengan gembok.  Tetapi saksikanlah sesudah lagu-lagu mantra pengundang bidadari dilantunkan dan kurungan ayam dibuka, sang penari sintren telah berganti baju dengan tata rias yang menawan, meskipun ia masih tetap dalam kondisi terikat sempurna seperti sebelumnya.  Sementara pakaian lusuhnya, telah dilipat rapi dan berada di pangkuannya, menggantikan posisi pakaian baru yang kini dikenakannya.

Atau lihatlah keajaiban yang dapat kita saksikan berikutnya.  Setelah kembali kurungan digunakan dan dibuka, penari kini telah melepaskan semua rantai pengikatnya.  Menari dan melompat sesuai lirik manteranya.  Aku sebagai dalang, bahkan kerap memerintahkan para pesinden untuk menyanyikan lirik “Perkutut Manggung”, yang berarti akan ada keajaiban berupa penari sintren melompat ke atas kurungan ayam yang rapuh itu, dan bahkan pula membiarkan melompat ke atas genteng rumahku.  Ini adalah keajaiban yang tak dapat sembarangan dilakukan oleh para dalang, dan aku dengan bangga mengatakan bahwa aku sanggup memerintahkan hal itu.

Seperti pada umumnya, apabila penari terkena lemparan saweran dari penonton, ia segera tak sadarkan diri.  Tetapi hal ini sangat mudah penyelesaiannya.  Aku segera mendekapnya, dan meminta para pesinden melantunkan lirik-lirik lagu mantra berikut ini:

Kembang ki laras, beras abang putih kuning (2x)

Wong nontone aja maras, dalang sintren joged maning

(Kembang ki laras, beras merah putih kuning

Semua penonton tak usah khawatir, karena penari sintren akan menari kembali)

(bersambung)***

/1/

Perkenalkan, namaku Kadinah.

Boleh jadi banyak orang tak mengenal namaku, dibandingkan dengan nama kakakku, Badiyah sang jagoan.  Setidaknya, banyak orang pada masa sekarang tak lagi mengenal namaku.  Apalagi mengenal siapa aku.  Karena itulah, aku perlu memperkenalkan diri.  Sekali lagi kuperkenalkan, namaku Kadinah.

Kini aku telah meninggal dunia, berada di alam yang berbeda dengan alam kalian.  Aku dikubur di taman pekuburan Wanakajir yang permai, di bawah pohon-pohon randu hutan raksasa yang kalian sebut pohon dander.  Kutinggalkan istriku, Warti, beserta anak dan cucu-cucunya yang sejak kecil kupelihara.  Sementara, satu-satunya anakku, seorang perempuan bernama Eri, sejak kecil ia tidak mau tinggal bersamaku.  Persoalannya adalah Warti memang bukan ibu kandungnya, sehingga barangkali hal ini membuat perasaan anakku tidak pernah nyaman tinggal di sisiku.  Ia memang hidup bersama ibunya, sampai saatnya ia kunikahkah dan hidup mandiri.  Dalam hal ini sebenarnya aku nelangsa: perkawinanku dengan Warti tidak membuahkan keturunan satu pun.

Sebelum aku meninggal, ketika aku dalam keadaan lemah karena didera penyakitku, aku masih dinasehati oleh seseorang yang sesungguhnya masih kubenci.  “Kang Kadinah.  Berhentilah merokok dan minum tehbruk.  Mulailah kembali makan.  Barangkali dengan cara ini badan akan kembali segar.  Penyakit yang ada di dalam tubuh, pasti akan berkurang ketika kebiasaan merokok dihentikan.  Selebihnya, karena makanan, penyakit di dalam tubuh akan habis tertumpas.  Percayalah….”

Nasehat itu tak berguna, apalagi datang dari orang yang kubenci.  Buat apa mengurangi kebiasaan yang membuat pikiranku dapat mengembara ke mana-mana, terutama kebiasaan merokok, toh sebentar lagi aku akan mati.  Larangan-larangan hanya akan menjadi tambahan penyiksaan yang menyakitkan bagi siapapun yang dekat sakaratul maut.  Maka, siapapun, turuti saja  apa kemauanku.  Biarkan aku tetap merokok dan minum tehbruk, dan jangan seorang pun berani menentangku.  Di alam kubur kini terbukti, bahwa tak ada sebatang rokok pun yang dapat kunikmati.  Juga tehbruk dengan bongkahan gula batu khas Cerbon.

Biarkan aku tetap merokok, dan jangan seorang pun berani menentangku.  Jangankan dokter, istri dan anak pun tak perlu melarangku.  Persetan semuanya.  Rokok adalah bagian dari hidupku, dan seperti yang juga kalian tahu, rokok juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dukuh ini.

Bukankah bagi orang-orang di kampung ini, merokok merupakan sesuatu yang lumrah?  Anak-anak yang lahir kemarin sore sekalipun, sudah pantas merokok.  Setidaknya menurut norma yang berlaku di dukuh ini.  Di dukuh ini, dalam hal rokok-merokok, perempuan setara dengan lelaki, boleh merokok.  Tak terlarang.  Istriku sendiri seorang perokok berat, sepertiku.  Bukan cuma istriku, lihat saja sederetan nama: Kasrem, Ateng, Sukarti, Siti, Ribut, Mar, dan yang lain-lain, semuanya adalah nama-nama perempuan perokok dari dukuh ini.  Rokok memang bagian dari denyut nadi dukuh ini.

Generasi-generasi di atasku biasa menggunakan kertas rokok dari kelopak-kelopak buah jagung.  Lembar-lembar kelopak pembungkus buah jagung itu dilepaskan satu per satu, dijemur hingga kering, dan kemudian dimanfaatkan sebagai kertas rokok dengan cara melintingnya.  Di dalam lintingan rokok dapat diisi dengan jenis-jenis tembakau kesukaan, yang banyak dijual di pasar-pasar.  Rasanya memang nyegrak, membuat tenggorokan langsung kering dan rongga hidung terasa panas.  Apalagi jika ditaburi sedikit kemenyan, rokok jagung bukan hanya membuat nyegrak tetapi juga membuat suasana menjadi mistis menyeramkan.  Klembak menyan memang dijual di pasar-pasar, tetapi orang-orang di dukuh ini pada zaman dahulu hanya udud klembak menyan pada malam Jemuah, karena klembak menyan bisa berfungsi ganda: sebagai rokok sekaligus untuk aktivitas membakar kemenyan malam Jumatan. Klembak menyan memang identik dengan rokoknya dukun.

Pada generasi kami hidup, sedikit demi sedikit rokok jagung tergeser popularitasnya oleh rokok kawung dan klobot.  Rokok kawung inilah yang pertama-tama kucoba, ketika usiaku masih sangat belia, sebelum akil baligh tiba.  Seperti namanya, rokok kawung adalah rokok yang menggunakan potongan daun kawung sebagai pembungkusnya dan berisi gumpalan tembakau yang besarnya menurut kemauan kita.  Pohon kawung atau pohon aren, atau disebut juga pohon kolang-kaling, sebenarnya tidak tumbuh di sekitar dukuh ini.  Pohon itu tumbuhnya di daerah kidulan, di wilayah Rajagaluh atau Prapatan.  Selain untuk lintingan rokok, daun kawung banyak dipakai sebagai atap rumah.  Hampir semua rumah-rumah di dukuh ini beratap daun kawung, terutama rumah-rumah yang tidak berada di tepi jalan raya.

Jika kalian mencobanya, rokok kawung tidak beda dengan rokok jagung.  Sama-sama nyegrak.  Tapi dasar wong Cerbon, rokok kawung yang nyegrak itu diubahnya menjadi rokok klobot yang menyejukkan.  Klobot itu sesungguhnya sama juga, berasal dari daun kawung, tetapi dengan terlebih dahulu direbus bersama adonan pasta gula merah dan ramuan lainnya.  Dengan pasta gula yang melekat pada daun kawung, rokok klobot menjadi lebih terasa manis.  Pada masa saya kecil, dukuh Kebonturi di desa Bringin dan daerah jalan gotrok di desa Arjawinangun, merupakan wilayah produksi klobot berkualitas.  Ketika mulai dewasa, kuketahui bahwa klobot cap Gareng merupakan klobot yang paling enak.  Setidaknya menurut seleraku.  Ketahuilah, setiap hisapan rokok klobot, ada mimpi kecil yang tercipta bagi seorang Kadinah.

Hendaklah kalian catat, bahwa menurut rasa-rasaku, aktivitas merokok di dukuh ini dapat dijadikan pertanda untuk menandai dari kelas mana seseorang berasal.  Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok kaum buruh tani, para tukang, dan para gerabad, umumnya terbagi menjadi dua kelompok.  Mereka yang sudah tua-tua, merupakan pengkonsumsi rokok jagung dan rokok kawung.  Sementara mereka yang merasa belum tua dari segi usia, kebanyakan merupakan pengkonsumsi rokok klobot.  Buat orang-orang yang sudah tua, yang penting adalah aktivitas rokoknya, asal ngebul. Bukan mencari gengsi dan bukan yang lain.

Di luar kalangan buruh tani, para tukang, dan para gerabad, dapat dipastikan termasuk ke dalam kelompok rokok klobot plus.  Artinya, meskipun sama-sama mengkonsumsi rokok klobot, tetapi hampir pasti mereka menggunakan tembakau yang berkualitas tinggi.  Masuk ke dalam kelompok ini adalah para pamong desa, ustadz, dan para petani yang bukan sebagai buruh tani.  Dari gayanya mereka merokok, jelas menunjukkan gengsi tersendiri.

Adapun para tuan tanah, seperti Wa Raden yang sawahnya berhektar-hektar, berbeda dengan kebanyakan orang-orang di dukuh ini.  Wa Raden merokok dengan menggunakan cangklong.  Tembakau tidak dilinting, melainkan dimasukkan ke dalam wadah cangklong, dan ia menghisapnya melalui pipa.  Wa Kaji juga sama, sambil manggut-manggut di kursi goyangnya, cangklong Wa Kaji tetap bergayut di mulutnya.

Pengelompokkan sosial ini segera berubah, ketika zaman mulai aman dan geliat pertanian semakin membaik.  Rokok jagung, rokok kawung, dan rokok klobot mulai tergeser oleh kehadiran rokok kretek.  Jadi kalau saya ingat-ingat, perubahan ini baru berlangsung sekitar tahun-tahun terjadinya peristiwa Gestok, Gerakan Satu Oktober, yang kalian sebut sebagai peristiwa G30S/PKI itu.  Wong Wanakajir itu fanatik penggemar rokok kretek Gudang Garam merah, Djaja, Sriwedari, Gentong, Minakdjinggo dan Jambu bol.

Aku adalah penggemar berat rokok kretek Gudang Garam merah.  Setiap kali kuhisap dalam-dalam, ada fantasi kejantanan.  Racikan sausnya pas untuk selera wong Cerbon: manis dan tidak berat ketika dihisap.  Sungguh, pada asap Gudang Garam yang terhisap, ada kenikmatan yang tak pernah bisa dilukiskan.

Jadi, biarkan aku tetap merokok, dan jangan seorang pun berani menentangku.

Sambil menikmati asap rokok, aku ingin bercerita panjang tentang Wanakajir, agar orang-orang yang masih hidup dapat mengenal sejarah dukuhnya.  Agar mereka bangga, kalau mereka lahir dari peju-peju para lelaki perkasa.  Agar mereka tahu, kalau kami adalah insan-insan ilahi yang taat mewarisi tradisi seni.  Bukankah sekarang sudah tidak hidup lagi kesenian sintren, genjring, obrog, berokan, sampyong, dan tarling, di dukuh kalian?  Atau jawablah, kapan kalian terakhir kali menikmati seni sandiwara, topeng Cerbon atau wayang kulit?

(bersambung)***

—Ringkasan Part-3—

Satu tokoh di dukuh Wanakajir yang melegenda adalah Badiyah, orang yang dikenal karena memiliki ketrampilan bela-diri, kebal, dan kharisma yang luar biasa.  Dengan memiliki sabuk mayat, Badiyah memulai petualangan baru yang mengantarkannya malang-melintang pada kehidupan dunia hitam.  Ketenarannya membuat dukuh Wanakajir selalu aman dari ancaman kriminal para pencoleng dan garong.  Karena ketenarannya pula, dukuh Wanakajir dan penduduknya selamat dari carut-marut penyembelihan manusia sepanjang dekade 1950-an dan 1960-an.

/8/

“Tak ada yang tahu, kalau saya tak lagi memiliki kekebalan sejak malam itu,” Badiyah menerawang ketika bercerita tentang luruhnya seluruh kekebalan yang dimiliki.

Pada waktu bertapa untuk menerima cincin yang membuat dirinya kebal, ia diberi amanat oleh leluhur,  “Janganlah kau memakan ‘daging mentah’.  Inilah satu-satunya pantangan untukmu.”  Ia mahfum atas larangan itu.  Semua orang yang gentur tapa dan hidup di Cirebon, dapat dengan mudah memaknainya, yakni larangan untuk tidak menyeleweng, berzinah.  Itulah makna ‘daging mentah’ dalam amanat itu.

Untuk masa yang lama ia tidak pernah tergoda.  Tetapi pada akhir tahun-tahun 1960-an, pesona seorang istri dari desa Guwa mampu meruntuhkan iman seorang Badiyah.  Suatu malam ia menyelinap masuk ke rumah seorang pamong desa Guwa, dan dengan tenang, selayaknya di rumah sendiri, ia masuk ke kamar istri pamong desa itu.  Ia menidurinya, manakala sang suami tak ada di rumah.

“Ke mana suamimu?”

“Paling-paling juga ke rumah janda muda di desa Slendra.”

“Ya.  Semua perilaku pamong desa itu bejat-bejat.  Alih-alih menjadi pamong bagi warganya, ia seringkali malah melemparkan janda-janda ke pelukan teman sesama pamong desa.”

“Itu urusan lelaki.  Yang pasti malam ini saya tidak sedih ditinggal selingkuh oleh suami.”

Esoknya, suara teriakan orang-orang di luar kamar mengagetkan Badiyah.  Pintu kamar digedor keras, dan ia kaget.  Dengan penuh kejantanan, masih memperlihatkan dadanya yang telanjang bidang, ia siap menghadapi semua orang.  Palang pintu dibuka, dan semua yang menunggu terhipnotis oleh kehadirannya.

Semua yang menunggu kemudian keluar, meninggalkan rumah itu satu per satu.  Sunyi-senyap menyelimuti desa Guwa, tak ada isyu tak ada rasan-rasan.  Suara kereta api yang melintas di sisi selatan desa itu pun hilang terbawa angin kencang.  Sementara, di sebelah selatannya lagi, pucuk-pucuk dander yang mulai menghijau dan ramai dihinggapi burung-burung manyar yang melakukan migrasi dan membuat sarang, hanya melambai-lambai.

“Siapa yang memanggil semua orang itu masuk ke dalam rumahmu?!” bentak Badiyah.

“Tidak tahu.  Ampun, Pak.  Tidak tahu.  Demi Tuhan.” Perempuan itu menangis sesenggukan.  Malu dan takut bercampur menjadi satu.  Malu pada masyarakat, dan takut pada lelaki yang kini ada di hadapannya, sang jagoan yang malang-melintang dalam dunia hitam.

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan ke sini.  Tak pantas.”

Keheningan kemudian hadir.  Lama.  Sampai kemudian Badiyah memecahkannya dengan suara tertekan dan dalam.  “Mana cincinku?”

“Ampun.  Tidak tahu, Pak.  Saya tidak mengambilnya.” Katanya pasrah.

“Mana?!!” suaranya meninggi, dan dengan kecepatan yang menyusulnya, hampir beriringan dengan suara tamparan tangan lelaki perkasa itu jatuh di pipi lembut perempuan.

“Ampuuuunn.” Ia menjerit seraya menutup mukanya dengan kedua tangan.  Membenamkan diri pada kasur yang kapuknya mulai cekung karena ditiduri semalaman.  Ia sudah pasrah.  Bahkan seandainya kematian sekalipun.  Siapa yang berani menghadapi sang jagoan.  Jangankan perempuan, lelaki seantero Dermayu pun mungkin akan takluk di bawah telapak kakinya.

Kedua orang tuanya diam.  Tak berani menghadapi.  Tak berani menyelamatkan anak perempuannya dari apapun yang mungkin akan terjadi.

Tetapi lengkingan ampunan perempuan itu segera menyadarkan Badiyah.  Perempuan itu tidak bersalah.  Bahkan pasti ia tidak mengambil cincin saktinya.  Yang salah adalah dirinya, melanggar amanat leluhur yang menitipkan cincin kekebalan kepadanya.  Pasti ia yang mengambilnya kembali.

Segera ia bergegas meninggalkan desa itu.  Dengan jalan memotong jalur Pilang Kandang, Badiyah memasuki dukuh Wanakajir dari arah utara.  Sepanjang jalan ia tak habis mengerti mengapa sampai bisa melanggar amanat leluhur yang membuat seluruh kesaktiannya kini luntur.  Buat seorang lelaki dengan ilmu kekebalan seperti Badiyah, tak ada larangan untuk menggauli perempuan yang disukainya.  Begitu tertarik pada seorang perempuan, tinggal minta pada orang tuanya secara baik-baik, menikahinya secara siri, dan kemudian menggaulinya.  Kapanpun.  Setelah bosan, ia bisa dengan bebas meninggalkannya.  Tak bakal ada yang berani untuk menggugatnya.  Kepala desa sekalipun.

“Ya, begitulah.  Tak ada yang tahu, kalau saya tak lagi memiliki kekebalan sejak malam itu.”

/9/

Memasuki dekade 1970-an dunia Jawa punya kisah sendiri.  Pemilu 1971 meninggalkan luka, khususnya bagi banyak simpatisan dan warga Nadliyin. Aparat desa, aparat kepolisian sektor dan aparat koramil, merupakan perpanjangan tangan dari Golkar dan mereka banyak mengintimidasi rakyat jelata.  Kiai Zuhdi, seorang ulama desa yang kharismatik, ditekan untuk tidak mempromosikan dan memilih NU dalam Pemilu.  Tekanan ini membuat keluarga dan seluruh kerabat kiai ketakutan.  Konon, anak lelakinya yang paling kecil, Farikin, dilempar ke balong oleh oknum-oknum perpanjangan Golkar, untuk membuktikan bahwa tekanan itu tidak main-main.

Tetapi dukuh Wanakajir menyimpan cerita lain.  Dukuh Wanakajir tidak dipetakan sebagai kampung hijau yang harus diwaspadai.  Lebih dari itu, hitam-putihnya dukuh Wanakajir hanya tergantung dari sikap seorang Badiyah saja.  Golkar menang mutlak di TPS-TPS yang ada di dukuh itu, dan entah berhubungan entah tidak dengan kemenangan Golkar, Badiyah diangkat menjadi seorang bekel, kepala dukuh atas dukuh Wanakajir.

Kehidupan memang seperti putaran roda pedati, bergulir perlahan memindahkan peran-peran manusia.  Badiyah yang dulu malang-melintang di dunia hitam, kini menjadi kepala dukuh, memimpin beberapa ratus warga penghuni dukuh Wanakajir.  Menjadi pamong dalam arti yang sesungguhnya.  Menjadi benteng yang harus pasang badan apabila terjadi apa-apa terhadap warganya.

Dukuh Wanakajir juga mengalami perubahan.  Awal tahun 1970-an Pemerintah membuat proyek jalan bypass antara Kalentanjung sampai Bunder, memperpendek jarak tempuh dibandingkan dengan harus mengambil rute Kalentanjung, Wanakajir, Lempong, Jatianom, Jatipura dan Bunder.  Proyek pembangunan jalan bypass ini segera membuat dukuh Wanakajir menjadi mati, kehilangan fungsinya sebagai urat nadi.  Jam tiga dini hari, yang biasanya sudah ramai oleh para gerabad yang singgah untuk sarapan pagi di dukuh itu, lama kelamaan tidak lagi.  Apalagi, setelah jalan raya berfungsi, mobil dan motor semakin tahun semakin banyak jumlahnya, tetapi tidak melintasi rute lama ke dukuh Wanakajir ini.

Perjalanan waktu memang mengubah segalanya.  Tapi bagi seorang Badiyah, berjalannya waktu ini melahirkan kecemasan dan kesepian.  Kedua kakak dan ketiga adik-adiknya sudah dikaruniai keturunan, anak dan bahkan cucu, sementara ia belum.  Padahal, usianya terus bertambah tua, dan dari istrinya ia belum memperoleh keturunan.  Kesepian tanpa batas ini membuat Badiyah nelangsa.

Badiyah kemudian menikahi Romlah, anak gadis Sartawi, salah seorang yang cukup terpandang di dukuh itu.  Dari perkawinan ini kemudian lahir beberapa anak.  Dan yang luar biasa, persis seperti cinta segitiga Sarah-Ibrahim-Hajar, kisah cinta segitiga Sutini-Badiyah-Romlah juga memiliki kesamaannya.  Menyusul Romlah mengandung anak-anak Badiyah, dari Sutini, meski sudah tidak dapat dibilang muda lagi usianya, lahir seorang putri, meneruskan trah Badiyah sang jagoan.

/10/

Hari-hari tuanya diisi dengan mendekatkan diri ke masjid.  Setelah keluar dari posisi komandan satpam pada satu unit Depot Logistik milik pemerintah, ia sepenuhnya menjadi orang rumahan.  Kedua istrinya membuka warung.  Sutini membuka warung makan di dekat Depot Logistik tempat Badiyah dulu bekerja, sementara Romlah membuka warung kelontong di rumahnya.

Badiyah tua kerap tergetar begitu suara adzan terdengar.  Ia ingin menebus masa lalunya yang kelam dengan sepenuhnya mendekatkan diri pada Tuhan.  Sampai Tuhan benar-benar memanggilnya, bukan lewat sang muadzin, tetapi lewat malaikatul maut.

Ia dikebumikan di pekuburan umum, di bawah pohon dander yang kokoh menjulang.

(habis)***